Wise Word

Tampilkan postingan dengan label kutipan berharga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kutipan berharga. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 September 2008

Rahasia Sukses Bos-bos Jepang!


Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan rekan-rekan di Barat. Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu barang harus ada fungsinya.

Pernah orang Jepang dijuluki les marchands des transistors (pedagang transistor) oleh de Gaulle. Namun sekarang mereka bukan hanya juara dunia dalam hi-fi, tetapi juga dalam microprocessor, mobil, bioindustri dan lain-lain.

Dalam sepuluh tahun terakhir produksi Jepang meningkat dua kali lebih cepat daripada Amerika Serikat. Apa rahasianya?

Berikut ini kita akan menjenguk orang-orang yang mempunyai andil besar dalam kemajuan tehnik Jepang.

Mula-mula kita jumpai Akio Morita si pencipta perusahaan Sony. Dia menyukai olahraga golf, sekaligus menjadi pengagum musikus Beethoven. Saking gandrungnya pada musik sampai-sampai di lapangan pun dia ingin bermain golf sambil mendengarkan Symphony kesembilan.

"Saya membutuhkan sebuah alat kecil dengan pengeras suara," kata Akio Morita pada anak didiknya. Tak lama kemudian tcrciptalah walkman.

Dia berusia sekitar enampuluhan, kurus, rambutnya putih dan matanya hampir kuning. Tapi ia nampak seperti umur duapuluh karena semangatnya yang tak kenal lelah.

Rumahnya di daerah kedutaan, di Tokyo. Bertingkat, dengan kebun dan sebuah kolam renang. Boleh dikata dia seorang boss Jepang yang sudah berorientasi ke Barat. Dia tak berkeberatan istrinya turut menjamu tamu dalam pakaian Barat. Tetapi, ia tetap menjalani hidup sederhana dan kekeluargaan menurut tradisi.

Setiap pagi pukul delapan tepat Akio Morita tiba di kantor. Ia selalu mengenakan seragam yang sama dengan yang dipakai anak buahnya, meskipun jas luarnya buatan Inggris. Ini untuk menunjukkan semangat demokratis yang menjiwai setiap perusahaan Jepang.

Pada tahun 1947 Akio Morita mendirikan perusahaan Sony; memasarkan transistor yang pertama, televisi berwarna pertama, dan walkman pertama. Saat ini perusahaan sedang maju-majunya, ia mengekspor 70% dari produknya. "Pasaran kami adalah seluruh dunia," katanya.

Kemajuan teknologi Jepang didorong oleh semangat untuk menyegerakan, dengan penuh kesadaran dan rasa kebanggaan. Tidak sampai dua generasi untuk mewujudkan mukjizat ini. Sebelumnya, orang Barat mengejek, Jepang hanya bisa membuat sepeda yang rodanya tidak bisa berputar dan jam-jam yang tidak bisa dipercaya. Karikatur tahun tigapuluhan pernah menunjukkan gambar seorang pemburu menyandang sepucuk senapan, yang ketika picunya ditarik maka larasnya menggembung. Capnya: made in Japan (bikinan Jepang).

Tetapi tiba-tiba orang Jepang tergila-gila pada perlombaan matematika dan fisika. Ujian-ujian di berbagai universitas menjadi sangat berat dan terjadi persaingan mati-matian. Ini menghasilkan orang-orang yang pandai. Di Pusat Penelitian Sony, jejak kaki para direktur yang sukses dicetakkan di atas tanah, seperti halnya jejak kaki para bintang Hollywood di studio MGM.

Saingan istrinya sebuah komputer

Sama dengan majikannya, Makoto Kikuchi direktur baru pada Pusat Penelitian Sony ini bisa berbahasa Inggris, dengan tujuan dapat berbicara dengan robotnya; sebuah "Apple" Amerika. "Masih yang terbaik untuk saat ini," ucapnya jujur. Laki-laki berusia 45 tahun ini sebelumnya sudah sangat terkenal di Jepang sebagai ilmuwan yang paling mengagumkan dari Pusat Penelitian Negara. Ia mengkhususkan diri dalam microprocessor. Ia pindah ke Sony enam tahun yang lalu.

Dalam sebuah rumah yang amat kecil berbentuk bujur sangkar dan terbuat dari kertas minyak itulah ia tinggal bersama istrinya dan hidup dengan sederhana. Dengan kimononya dan berlutut di atas tikar Jepang, istrinya dengan setia menemani suaminya bermain dengan komputer.

Mottonya: Research Makes The Difference, menggambarkan keambisiusan Makoto Kikuchi. Motto ini ditulis pada truk-truk perusahaan dalam bahasa Inggris supaya menimbulkan kesan eksotis.

Ia punya rencana untuk beberapa tahun mendatang: membuat komputer yang bisa menguraikan bahasa percakapan orang Jepang supaya setiap orang Jepang dapat berbicara dengan komputer.

Dengan senang hati, dia mengundang 190 penyelidik datang ke pusat penelitiannya. Kata Makoto: "Sony memberikan 3,5 sampai 5% penghasilannya untuk penelitian." Tambahnya: "Sebelum ini saya bekerja di sebuah laboratorium di Amerika Serikat. Di Sony, cukup hanya satu jam bagi saya untuk memperoleh sebuah alat yang harganya setengah juta dolar. Saya lalu bisa menghargai perbedaan ini." Ia tetap seorang Jepang Tulen meskipun lama tinggal di Amerika Serikat.


Para peneliti Sony mempelajari sinar energi matahari, teknologi silikon dan lainnya. Tetapi bidang yang paling disukainya adalah semiconductor. Dia memulai segalanya dari nol pada tahun 1976.

Di perusahaan Sony, kaitan penelitian produksi dengan pemasaran merupakan satu keharusan yang permanen. Contohnya, setiap Minggu pagi Makoto sarapan bersama Akio Morita dan Direktur Marketingnya. Hubungan yang begitu wajar dan akrab antara peneliti dan pemimpin ini jarang sekali terjadi di Amerika maupun di Eropa.

Morita yang sudah begitu kebarat-baratan, yang kalau bermain golf memakai kemeja dan topi Amerika, tetap membungkukkan badan sampai ke tanah bila berjumpa dengan kawan. Dalam mobil ia memiliki telepon, televisi dan magnetoskop; tetapi ia tetap mengenakan seragam yang sama seperti 35.000 anggota Sony.



Honda tidak memberi warisan kepada anak

Soichiro, 78 tahun, adalah pendiri Honda Motor. Ia juga mengenakan seragam karyawan biasa di perusahaan, kemeja dan topi putih. Dia lebih suka bekerja di bengkel, meskipun tersedia ruangan di setiap perusahaannya. Sebelum pecah perang, ia pernah menjadi montir biasa.


Sedikit demi sedikit ia turut meletakkan dasar perusahaan. Sekarang ia mengepalai 23.000 buruh dan membawahi 43 perusahaan di 28 negara (enam ada di Jepang).

Anak buahnya diberi kepercayaan total dan tanggung jawab pribadi atas apa yang dihasilkannya.

Soichiro tidak memiliki harta pribadi. Dia tinggal dalam sebuah rumah sederhana. Kegemarannya melukis di atas kain sutra dan bermain golf. Barangnya yang berharga cuma sebuah helikopter dan mobil biasa. Penghasilannya dipakai untuk penelitian dan bea siswa kaum muda. Dia bahkan tak memberi warisan kepada anak-anaknya.

"Warisan paling berharga yang dapat saya berikan adalah membiarkan mereka sanggup berusaha sendiri," katanya.

Hadiah untuk gagasan yang paling baik

Kyoto Ceramics adalah salah satu pabrik pembuat microchips (elemen-elemen kecil komputer) yang paling kuat di dunia.

Omset Kyoto Ceramics 400 juta dolar dan menghasilkan keuntungan luar biasa, 12% setelah dipotong pajak.

Ada tujuh buah perusahaan di Amerika Serikat dan tiga di Jepang. Inamori sang pemimpin, seperti juga Soichiro Honda dan Kaku pemimpin Canon, menganggap dirinya sebagai karyawan biasa. Selisih gaji direktur dan buruh baru di Jepang lebih kecil bila dibandingkan dengan di Eropa dan Amerika Serikat.

Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan rekan-rekan di Barat. Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu barang harus ada fungsinya.

Bagaimana mereka bisa memegang prinsip sebaik itu?

Mari kita menengok ke Gamo, salah satu pabrik keramik di Kyoto. Kurang lebih 50 kilometer dari Kyoto. Di sini pada pukul delapan pagi seluruh karyawan Gamo berkumpul dalam ruang-ruang besar. Dari tiap ruang, di atas sebuah panggung seorang laki-laki meneriakkan: berdiri, bersiap, luruskan kaki dan istirahat. Ratusan laki-laki dan perempuan dalam seragam biru berdiri siap. Laki-laki lalu melaporkan hasil pekerjaan bulan lalu dan menambahkan delapan pesan produksi, tentang mutu, penurunan ongkos dan sebagainya.

Selesai laporan, dia memanggil lima orang maju ke depan. Mereka diberi hadiah, karena telah menyumbangkan gagasan yang paling baik, pada bulan sebelumnya. Di semua perusahaan Jepang, para insinyur dan buruh diundang menyumbangkan gagasan untuk lebih memajukan produktivitas, keamanan dan semua bidang yang berkaitan dengan kehidupan perusahaan.

Di Canon, setahun yang lalu, masuk sekitar 146.242 gagasan yang ternyata dapat menghemat lebih dari tujuh juta yen!

Sebulan sekali mereka berkumpul, memberi laporan pekerjaan selama ini, bertukar pengalaman dan mutu pekerjaan mereka.

Hadiah bagi gagasan mereka yang terpilih antara lain medali, jam tangan, tiket kereta atau pesawat terbang. Yang kurang berinisiatif tak akan mendapat apa-apa. Tak pernah terjadi seseorang mendapat sanksi negatif.

Setiap pekerja memiliki saham dan dividen dari perusahaan. Benar-benar merupakan perwujudan demokrasi yang didasarkan pada penghargaan hasil kerja dan atas hierarkinya. Di Jepang, persaingan ditumbuhkan sejak kanak-kanak. Keluaran sekolah bereputasi tinggi lebih mudah mendapatkan pekerjaan yang baik.

Di tiap perusahaan ada serikat buruh, yang setiap tahunnya mengorganisir pemogokan untuk memperoleh kenaikan gaji yang disebut Shunto. Tetapi Shunto ini cuma suatu upacara tradisi, bukan pemogokan seperti layaknya di Barat.

Robot membuat robot

Di kaki Gunung Fuji ada robot membuat robot. Robot-robot itu bekerja dengan diam-diam. Beberapa manusia membaca lembaran kertas besar yang keluar dari terminal robot. Di Honda Motor Cie, di sebuah dusun dekat Tokyo, kita bisa melihat mobil yang di-assembling oleh robot, yang mematri 160 kali setiap detiknya. Grup-grup yang terdiri dari lima atau enam buruh memeriksa hasil kerja robot. Setiap buruh diizinkan menghentikan pekerjaan dengan cara menekan tombol merah, bila ada yang kurang beres.

Hasilnya: pada produksi akhir hanya ada 0,1% yang apkir, dibanding dengan 20% di Eropa. Di Sony, semua karyawannya teliti. Para majikan di Eropa memimpikan pabrik mereka bisa menyamai Jepang, dan mendambakan buruh-buruh yang serupa pula.

Di perusahaan Canon, Tuan Kaku yang adalah presiden direkturnya itu dan para buruhnya, saling menundukkan kepala mereka sama dalamnya. Percakapan antara mereka bisa membuat heran telinga-telinga Perancis.

Tuan Kaku menjelaskan secara mendetil target keuangan dan tehnik yang ingin dicapai perusahaan. Kepala serikat buruh Canon meyakinkan majikannya, keberhasilan Canon merupakan satu kepuasan bagi seluruh karyawan dan mereka ingin bekerja sama sepenuhnya bersama direksi.

Majikan-majikan Eropa sangat kagum melihat modernisasi Jepang. Kagum bukan hanya karena melihat sindikat-sindikat buruh dapat bekerja sama begitu baik dangan majikannya, tetapi juga melihat para majikan yang tak pernah memecat buruhnya itu.

Mereka melihat suatu industri di mana otomatisasi tidak menciptakan pengangguran, dan setiap buruh mau dan dapat memahami apa pun yang mereka lakukan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai jalannya perusahaan. Yang nampak di depan mereka adalah sebuah dunia, di mana disiplin yang mirip disiplin militer itu dapat berjalan berdampingan dengan rasa hormat pada setiap individu. Inilah rahasia kemajuan Jepang. (Paris Match/Intisari)

Sumber: KCM - Kamis, 23 September 2004

Kunci Sukses Berprestasi


Bekerjalah lebih baik dari rekan-rekan Anda. Caranya, tingkatkan efisiensi dan produktivitas kerja Anda, serta tentukan skala prioritas dalam bekerja.

Dalam sebuah kantor atau perusahaan, ada saja karyawan yang belum memperoleh promosi jabatan meskipun sudah bekerja dengan tekun, patuh, dan jujur. Semuanya telah dikerjakan sesuai dengan standar kerja yang ditentukan.

Apa yang masih kurang? Sebenarnya, karyawan macam ini lupa bahwa rekan-rekannya juga melakukan hal-hal serupa. Kalau Anda termasuk di antara mereka, cobalah kiat untuk berprestasi lebih baik berikut ini:

1. Bekerjalah lebih baik dari rekan-rekan Anda. Caranya, tingkatkan efisiensi dan produktivitas kerja Anda, serta tentukan skala prioritas dalam bekerja.

2. Perbesar daya kerja Anda dengan menghadapi pekerjaan dengan sikap mental positif dan perhatian penuh.
3. Bekerjalah lebih kreatif.
4. Lakukan penyesuaian diri dengan perubahan yang terjadi. Jangan terkejut bila sewaktu-waktu terjadi perubahan.
5. Tingkatkan wawasan serta keterampilan dalam bekerja dan berpikir.

6. Jangan mudah puas dengan hasil kerja yang telah dicapai.
7. Lakukan evaluasi terhadap hasil kerja Anda dan berikan tantangan untuk menghadapi tugas lebih berat.

Kepuasan kerja akan diperoleh bila Anda mampu menyelesaikan tugas dengan mudah, benar, cepat, dan tepat. Kondisi ini meningkatkan semangat kerja, sehingga memperbesar daya kerja. Akhirnya, Anda akan lebih menguasai, efisien, produktif, dan terampil dalam bekerja.

Sumber: KCM - Minggu, 12 September 2004

TIPS MENUJU SUKSES "SELALU BERPIKIR@N POSITIF"

Percaya atau tidak, sikap kita adalah cermin masa lampau kita, pembicara kita di masa sekarang dan merupakan peramal bagi masa depan kita. Maksudnya apa ? Ya, bahwa kondisi masa lalu, sekarang dan masa depan kita dapat tercermin dari bagaimana sikap kita sehari-hari. Camkan satu hal, sikap kita merupakan sahabat yang paling setia, namun juga bisa menjadi musuh yang paling berbahaya.

Bagaimana sikap mental kita adalah sebuah pilihan; positif ataukah negatif.

W.W. Ziege pernah berkata."Tak akan ada yang dapat menghentikan orang yang bermental positif untuk mencapai tujuannya. Sebaliknya, tak ada sesuatupun di dunia ini yang dapat membantu seorang yang sudah bermental negatif.

Jika kita seorang yang berpikiran positif, kita pasti mampu menghasilkan sesuatu. Kita akan lebih banyak berkreasi daripada bereaksi. Jelasnya, kita lebih berkonsentrasi untuk berjuang mencapai tujuan-tujuan yang positif daripada terus saja memikirkan hal-hal negatif yang mungkin saja terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir.

Ingat perkataan Robert J. Hasting, "Tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan. Kita sendirilah yang harus memutuskan apakah kita ingin bahagia atau tidak. Dan begitu kita mengambil keputusan, maka kebahagiaan itu akan datang".

Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut.

Dari beberapa buku yang saya baca beberapa tips berikut terbukti cukup membantu. Cobalah untuk menjalankan kegiatan-kegiatan berikut ini sebanyak mungkin dalam hidup kita. Sebagaimana untuk mencapai hal-hal lainnya, untuk menjadi seorang yang berpikiran positif, prosesnya harus dilakukan secara terus-menerus :

1. Pilihlah sebuah kutipan yang bernada positif setiap minggunya dan tulislah kutipan tadi pada selembar kartu berukuran 3 x 5. bawalah kartu tadi setiap hari selama seminggu. Baca dan camkanlah kutipan tadi secara berkala dalam sehari dan jadikan afirmasi, misalnya di meja kerja Anda, di dashboard mobil, atau di cermin kamar mandi. Jadikanlah setiap kutipan tersebut bagian pemikiran Anda selama seminggu itu.

Contoh :
"Seorang pemimpin yang baik adalah yang bisa membesarkan semangat dan harapan-harapan kepada anak buahnya." (Napoleon Bonaparte).
"Hari ini saya ingin menolong orang sebanyak mungkin" (Harry Bullis)

2. Pilihlah seseorang yang dalam hidup Anda yang Anda anggap berpikiran negatif. Cobalah cari hal-hal yang positif dalam diri orang itu dan ubahlah pikiran-pikiran negatif Anda mengenai orang tersebut dengan hal-hal positif tadi. Sebagai orang beragama, tolong doakan pula orang tersebut dengan hal-hal positif tadi dan mohonlah agar Tuhan menolongnya.

3. Pilih satu hari istimewa dalam seminggu dan jadikanlah hari itu sebagai "hari 10". Bangunlah pada pagi hari dan yakinlah bahwa setiap orang yang akan Anda temui bernilai "10", dan perlakukanlah mereka secara demikian. Anda pasti akan heran sendiri melihat tanggapan yang akan Anda peroleh dari orang-orang yang selama ini Anda anggap remeh.

4. Tandai suatu hari dalam seminggu sebagai "hari berpikiran positif." Hapuslah kata-kata "tidak dapat," "tidak pernah," atau kata-kata lain yang senada, usahakan agar Anda menemukan cara untuk mengatakan apa yang bisa Anda lakukan.

5. Paling tidak sekali dalam seminggu, carilah suatu kesempatan untuk bisa memberi kepada orang lain dengan tulus. Lakukanlah suatu yang khusus pada suami/istri ataupun anak-anak Anda. Berbuatlah suatu kebaikan pada seseorang yang belum Anda kenal.

Siapa yang ingin sukses ?

Kuncinya jangan pernah sekali-kali berpikiran negatif ! Buang jauh-jauh hal-hal negatif; juga kalimat-kalimat negatif dari pikiran Anda !

Jangan pernah ada lagi kalimat-kalimat seperti :

"Pasti gagal;
Kami belum pernah melakukannya;
Kami tak sanggup melakukannya;
Saya belum siap melakukannya;
Itu bukan tanggung jawab kami; dan sebagainya".

Selamat mencoba, dan
.................................................
SEMOGA sukses senantiasa bersama kita yang selalu berusaha maksimal
menggapainya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Meredam Rasa Tersinggung


Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain. Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah habisnya waktu kita untuk memikirkan "balas dendam"

Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak ersinggung menjadi suatu keharusan. Apa yang menyebabkan orang tersinggung?

Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa sukses. Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.

Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat.

Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung. Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan :

Pertama, belajar melupakan. Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemuka agamaan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggung jawabkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.

Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat. Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyikapi Kejadian dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.

Ketiga, kita harus berempati. Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menuntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang Gajah tersebut. Yang di depan berkata, "Oh indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan ia didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah. Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung cari seribu satu alasan untuk Bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai lading peningkatan kwalitas diri dan kesempatan untuk mempraktekkan buah2 "kebaikan" Yaitu, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Moral Individu



Banyak berita menarik bertemakan tentang pembenahan negri oleh media massa yang secara garis besar mempertanyakan "kesanggupan" kabinet mendatang dalam memenuhi ekspektasi sebagian besar rakyat Indonesia.

Pernah ada cerita dari seorang guru agama saya dulu yang menceritakan suatu keadaan (bahaya) dan bagaimana kita menyikapi keadaan itu.

Pada suatu ketika di suatu hutan lebat, terjadi kebakaran besar yang membuat semua penghuni hutan kalang kabut.

Disatu pojok, terdapatlah se ekor katak yang menyemprot-nyemprotkan air dengan mulutnya untuk memadamkan api hutan yang kian membesar. Semua juga tahu kalau usaha ini tidak akan bisa memadamkan api tersebut karena api sudah terlalu besar dibandingkan dengan semprotan air si katak.

Di pojok lain, terdapatlah seekor kadal yang melempar-lemparkan kayu kayu kering yang mungil kedalam api untuk memperbesarkan api hutan yang sudah besar. Semua juga tahu bahwa tambahan ranting sebesar mulut kadal sangatlah kecil sekali kontribusinya dalam membesarkan api.

Di pojok lain yang agak jauh dari api terdapatlah seekor kera yang menonton kebakaran hutan tersebut sambil terus berkomentar mengomentari penghuni-penghuni hutan baik yang ketakutan, yang lari, yang berusaha memadamkan atau bahkan juga yang justru berusaha menambah api.

Dari cerita di atas, tidak ada satupun yang ternyata bisa memadamkan api, baik si katak, kadal ataupun kera. Pak guru agama pun lalu merujuk pada perbuatan ketiga tokoh tersebut dan dikait-kaitkan dengan pahala surga dan siksa neraka. Penjelasan pak guru agama adalah; si katak masuk surga, sedangkan si kera dan kadal masuk neraka.

Itu dongeng sebelum tidur pada masa kecil dulu.

Moral yang ingin disampaikan pada waktu itu adalah walaupun ketiganya tidak berhasil mamadamkan api, tapi apa yang didapat dari ketiganya berbeda karena niat dan perilakunya menghadapi api tersebut.

Ada pendidikan moral lain dalam cerita diatas, yaitu perbuatan baik sekecil apapun bahkan saking kecilnya sampai-sampai tidak terlihat atau bahkan ditertawakan atau di olok-olok, semuanya tidak luput dari pengamatan Allah SWT. Bisa saja pelaku perbuatan baik itu terlihat sangat biasa, tapi sesungguhnya dialah yang sangat dimuliakan Allah dan surgalah tempat berpulang yang terbaik baginya.

Katakanlah sekarang misalnya api tersebut adalah semua persoalan bangsa yang harus diselesaikan (seperti api yang harus dipadamkan), lalu kalau kita berlaku seperti katak dalam cerita diatas, apalah artinya usaha seorang individu katak dalam "memadamkan api" tersebut. Begitupun kontribusi seorang individu kadal atau seorang individu kera. Api tidak akan terpengaruh.

Lain halnya kalau itu dilakukan dalam jumlah yang besar. Pasti akan berpengaruh pada api tersebut. Tinggal dilihat kalau banyak kera, api tidak padam, banyak kadal, api justru makin besar. Banyak katak, ada kemungkinan api mengecil dan bahkan padam.

Sewajarnyalah semua pendidikan selalu menanamkan moral-moral yang baik kepada anak didiknya. Anak-anak sebagai penerus bangsa akan melihat orangtuanya, karena merekalah satu-satunya orang yang dia punya di dunia ini. Kalau masing-masing dari kita walaupun kecil ikut berkontribusi menyelesaikan persoalan bangsa, Insya Allah anak-anak kitapun akan turut pula berkontribusi dan Insya Allah persoalan bangsa akan lebih cepat terselesaikan.

Persoalannya adalah perbuatan baik yang kecil lebih sukar dilakukan dari pada perbuatan buruk yang kecil. Misalnya memberi jalan pada penyebrang jalan lebih sulit dilakukan dari pada menerima sogokan suatu proyek. Kabinet apapun yang akan datang, hasilnya akan lain kalau masing-masing individu bangsa barsikap seperti katak dalam cerita hutan terbakar tadi.

Agar tak Menjadi Debu


Artikel Muslimah - Sunday, 10 October 2004

Ada yg menangis tertahan, ketika daurah bekal pernikahan itu berlangsung. "Saya jenuh, berkali2 mengikuti daurah dengan tema yg sama, namun saya masih saja sendirian. Sptnya harapan wujudnya keluarga islami yg indah dan mempesona itu hanya sebuah utopia. Mimpi indah yg pamit pergi saat subuh datang. Pedih, sebab embun pagi pun hamoir slalu berkabut," ujarnya pelan.

Ukhti kita ini tidak sendirian, ratusan bahkan mungkin ribuan muslimah "baik-baik" yg lain, berjajar di antrian panjang menunggu dipinang. Bukan soal layak atau tidaknya manikah, sebab mereka sangat layak. Berwawasan, berkepribadian, punya komitmen, dan tidak menuntut banyak. Dalam banyak hal mereka sungguh2 telah siap lahir batin. Juga bukan soal laku atau tidak sebab mereka bukan barang dagangan

Meski sama pd tingkat penampakan yg sama, sama2 tidak memiliki pasangan, ada perbedaan mendasar antara orang2 yg menolak menikah dengan orang yg belum menikah. Atas nama apapun. Yang satu telah menentang fitrah dan membuat bid'ah yg dibenci Allah dan Rosul-nya, sedang yg lain memang sedang "diuji" imannya.

Kesendirian mereka justru karena keinginan menikah dlm arti yg sebenarnya, bukan sekedar kawin dng lawan jenis. Menikah untuk membangun pndasi ibadah yg lebih kokoh, dan mendapat ridha Allah. Dan itu hanya mungkin bila suami2 mereka adalah hamba2 yg "sampai" pemahaman maupun amalnya pd tingkatan "qawwam"

Sebab menikah mjd pertaruhan dan mereka tidak ingin menghancurkan benteng pertahanan mereka sendiri. Menikah haruslah menjadikan sgala ibadah lebih baik, kualitas dan kuantitasnya. Bukan malah menjadi awal kehnacuran akidah dan ibadah mereka.

Dan ketika lelaki spt ini mjd makhluk langka atau ada dlm jumlah terbatas. Bersusah payah mereka mempertahankan huznuzhan mereka kpd Allah di tengah pandangan sinis dan melecehkan. Mereka bukannya jual mahal atau mempersulit diri namun tidak mungkin rasanya menukar nikmat iman kpd laki-laki tanpa kriteria, tanpa konsep hidup yg jelas. Bagaimanapun mereka tidak ingin menghargai murah keyakinan mereka

Ini adalah pertempuran melawan gejolak nafsu dan keinginan "dimiliki". Pertempuran melawan nurani yg sering menjerit atau naluri menjadi ibu yg memang milik mereka. Mereka berjuang sendirian sebab orang lain tidak akan pernah merasakan kepedihan mereka. Mereka tabah dan tidak ingin semua pengorbanan ini menjadi abu, tak menyisakan kebaikan di sisi Allah. Alangkah beratnya !!

Dalam kesendirian, mereka adalah pahlawan, dalam renungan dan tangisan, mereka adalah manusia perkasa. Jadi kalau tidak mampu menikahi mereka, meski untuk menjadi istri kedua, tolong hargai prinsip dan kemuliaan mereka. Doakan keistiqomahan mereka, atau malah pemahaman kita yg belum sampai ? wallahu a'lam

Ar-Risalah (penulis: Chandra Kurniawan)

Mengapa Tujuan Sangat Penting?


Pada hari yang sangat cerah, kaca pembesar yang terkuat pun tidak akan dapat membakar kertas jika kita terus menggerakkan kaca tersebut. Tetapi jika kita berfokus dan menahannya, maka kertas itu akan terbakar. Itulah kekuatan konsentrasi.

Seorang pria yang sedang berjalan-jalan, kemudian berhenti di sebuah persimpangan. Ia bertanya kepada seorang tua," Kemana jalan ini menuju?"

Orang tua itu menjawab," kemana Anda hendak pergi?" Orang itu menjawab," Saya tidak tahu." Orang tua itu berkata," Ambillah jalan mana saja. Adakah bedanya?

Alangkah tepat jawabannya. Bila kita tidak mengetahui kemana kita akan pergi, jalan manapun akan membawa kita ke sana.

Misalkan kita memiliki sebelas orang pemain sepak bola yang penuh antusias dan semuanya siap bertanding, dan kemudian ada seseorang yang membawa pergi tiang gawang. Apa yang terjadi dengan pertandingan itu ? Pertandingan itu akan bubar. Bagaimana kita bisa menciptakan angka? Bagaimana kita tahu jika sudah sampai tujuan? Antusiasme tanpa arah adalah seperti api yang liar dan akan menimbulkan frustasi. Tujuan akan menentukan arah.

Maukah kita duduk di atas kereta api atau di dalam pesawat terbang tanpa tahu kemana tujuannya ? Jawabannya tentu saja tidak. Kalau begitu mengapa orang menjalani hidup tanpa tujuan tertentu ?

Sumber: Disadur dari dari buku karangannya "Shiv Khera"

Hati-hati dengan Kebiasaan Anda


Ini adalah sebuah cerita dari perkumpulan Anjing di suatu Gurun pasir. Anjing yang satu bernama Blacky dia sangat percaya diri, antusias dan berani. Suatu waktu dalam sebuah perkumpulan anjing-anjing itu ada sebuah kesepakatan untuk mengadakan lomba lari marathon di gurun pasir tersebut. Kemudian di tentukan hari dan jamnya. Setiap peserta di bekali alat komunikasi (katakanlah Handphone), untuk saling mengecek dimana keberadaan mereka sewaktu lomba berjalan. Blacky sangat yakin bahwa dia bisamemenangkan pertandingan, dia bilang " I am going to be a Winner "
berkali-kali. Setiap bertemu dengan temannya dia bilang seperti itu.

Perlombaan di mulai, mereka sudah start. Beberapa waktu berjalan si Blacky benar-benar berada paling depan, melejit dan meninggalkan peserta lainnya, semakin jauh...jauh....jauh dan jauh. Sampai beberapa jam tidak terlihat oleh peserta yang lain. Setiap beberapa menit Blacky menelpon teman-temannya bahwa dia akan menjadi THE WINNER, dia bilang tinggal beberapa step lagi akan menuju finish. Dia tetap lari jauh meinggalkan lainnya. Dia telphone lagi ke teman-temannya, 1 step lagi dia akan MENANG. Kemudian beberapa waktu lagi dia telphone lagi ke teman-temannya bahwa garis FINISH sudah terlihat oleh dia. Anjing-anjing yang lain, terus berlari mengejar ketinggalan dan berusaha menuju Finish.

Tetapi mereka sangat bingung kenapa si Blacky tidak ada di garis finish, mereka mencari si Blacky ke segala penjuru, mereka berusaha menelpon Blacky, tetapi selalu mail box dan tidak ada jawaban. Beberapa lama mereka belum temukan Blacky, kemudian para anjing sepakat untuk menyewa Helikopter untuk mencari Blacky. Mereka berputar-putar di gurun pasir tersebut dan lama belum dapatkan Blacky. Akhirnya mereka melihat ada sebuah titik kecil, kemudian helikopter tersebut menuju titik hitam tersebut. Benar sekali bahwa itu adalah Blacky, dan alangkah terkejutnya mereka karena Blacky terdiam tak bergerak sedikitpun. Mereka menyentuh hidungnya dan Blacky sudah tidak bernyawa. Beberapa dari mereka saling menganalisa, kenapa Blacky bisa seperti itu. Ada yang berpendapat mungkin dia kelaparan, tetapi setelah di cek tasbekal makanannya masih banyak.

Ada lagi yang menganalisa, mungkin dia kehausan, kemudian di cek lagi bahwa botol minumnya juga masih banyak. Ada yang lain mengira Blacky terluka, tetapi para ahli dokter hewan dari dunia anjing mengecek bahwa Blacky tidak terluka, semua tubuhnya mulus. Akhirnya ada 1 dokter yang lain memberikan alasan yang paling tepat, setelah cek secara medis, bahwa Blacky mati karena dia terlalu lama menahan air kencing, dan dia berusaha untuk membuang air kencing tersebut, tetapi lama mencari pohon dan tidak dapatkan. Jadi kebiasaan Blacky dan anjing umumnya adalah kencing di tiang pohon dengan mengangkat salah satu kakinya. Dan Blacky mati karena tidak membuang air kencingnya, karena dia tidak dapatkan pohon di gurun pasir tersebut.

Apa moral dari cerita diatas?
Bahwa kebiasaan yang jelek itu bisa membahayakan kita. Apalagi jika kita tidak sadar dan tidak mau merubah kebiasaan kita. Karena kebiasaan mempengaruhi cara hidup kita. Cara hidup kita mencerminkan karakter kita, dan Karakter kita mempengaruhi nasib dan masa depan kita. Kebanyakan orang memang sulit untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan yang sudah berlangsung berulang-ualang bahkan bertahun-tahun, dan kebanyakan orang takut kehilangan, karena setiap perubahan akan menghilangkan sesuatu. Tapi yakinlah jika perubahan baik pasti akan menjadi baik pula.

Bambang Wicaksono

dua buah bata


Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami di tahun 1983, kami kehabisan uang. Kami berhutang. Belum ada bangunan di atas tanah, gubuk pun tidak. Pada minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu tua yang dibeli dengan murah dari tempat loak; kami menaruhnya di atas tumpukan batu bata di setiap sudutnya untuk meninggikan posisinya di atas tanah. (Tidak ada matras, tentunya kami adalah bhikkhu hutan).

Kepala vihara mempunyai pintu terbaik, yang rata. Pintu saya bergelombang dengan lubang di tengahnya tempat pegangan pintu. Saya senang karena pegangan pintunya telah dicopot, tapi itu meninggalkan sebuah lubang di tengah-tengah pintu pembaringan saya. Saya bercanda dengan mengatakan sekarang saya tidak perlu meninggalkan pembaringan untuk ke toilet! Namun sejujurnya, angin dingin masuk melalui lubang tersebut. Saya tidak bisa tidur beberapa malam itu.

Kami hanyalah bhikkhu miskin yang membutuhkan bangunan. Kami tidak bisa membayar tukang, bahan-bahan bangunannya sudah cukup mahal. Jadi saya belajar untuk bertukang: bagaimana menyiapkan fondasi, menyemen dengan batu bata, membangun atap, langit-langit semuanya. Saya dulunya ahli fisika teoritis dan guru sekolah tinggi (SMU) sewaktu masih umat awam, tidak terbiasa kerja kasar. Setelah beberapa tahun, saya sudah cukup mahir dalam bertukang, bahkan saya menyebut rekan-rekan bhikkhu sebagai BBC (Buddhist Building Company - Perusahaan Bangunan Buddhis, pent). Tapi saat saya memulainya, pekerjaan itu sangat sulit.

Kelihatannya memang mudah untuk menembok dengan sebuah batu bata: seonggok semen di bawah, ketok sini, ketok sana. Sewaktu saya mencoba melakukannya, saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi yang lain jadi menaik. Lalu saya ketok sisi tersebut, batu batanya tidak lagi lurus. Setelah saya ratakan kembali, sisi yang pertama kembali menjadi terlalu tinggi. Coba saja sendiri!

Sebagai bhikkhu, saya mempunyai kesabaran dan waktu yang banyak, sebanyak yang saya butuhkan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna, tidak perduli berapa lamanya saya bekerja. Akhirnya, saya menyelesaikan tembok saya yang pertama dan berdiri di depan untuk mengaguminya. Saat itulah saya menyadari celaka! Saya melupakan dua batu bata. Semua batu bata terpasang sempurna dengan lurus, tapi yang dua ini terpasang miring. Kelihatan sangat jelek. Merusak pemandangan ke seluruh tembok. Kelihatan kacau.

Saat itu, semennya sudah mengeras, tidak bisa lagi mencabut dua batu bata tersebut, maka saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya bisa merobohkan saja dinding tersebut dan memulai dari awal kalau perlu, meledakkannya. Saya membuat kesalahan dan sangat malu. Kepala vihara berkata tidak perlu, temboknya dibiarkan saja.

Sewaktu saya mengajak pengunjung pertama untuk melihat-lihat pembangunan vihara, saya selalu berusaha mencoba menghindari mereka untuk melihat tembok tersebut. Saya tidak suka orang-orang melihatnya. Pada suatu hari, sekitar tiga atau empat bulan setelah saya membuat tembok tersebut, saya mengantarkan seorang pengunjung dan dia melihatnya.

Tembok yang indah, katanya dengan santai. Pak, saya menjawab dengan kaget, Apakah kacamata anda ketinggalan di mobil? Apakah mata anda tidak beres? Tidakkah anda melihat dua batu bata yang merusak keseluruhan tembok itu?

Apa yang dikatakannya kemudian mengubah sudut pandang saya secara keseluruhan mengenai tembok itu, mengenai diri saya dan mengenai berbagai aspek-aspek lain mengenai hidup. Dia berkata, Ya. Saya bisa melihat dua batu bata miring itu. Tapi saya juga melihat 998 batu bata yang terpasang sempurna di sini.

Saya tersadar. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, saya bisa melihat batu bata-batu bata yang lain, selain dua batu bata tersebut. Di atas, bawah, kiri dan kanan batubata tersebut adalah batu bata yang terpasang dengan baik, sempurna. Lagipula, batu bata yang terpasang sempurna jauh lebih, lebih banyak daripada dua batu bata yang jelek tadi. Sebelumnya, mata saya akan berfokus hanya kepada dua kesalahan tadi. Saya menjadi buta terhadap hal-hal lainnya. Itulah sebabnya mengapa saya tidak tahan melihat tembok itu, atau memperlihatkannya kepada orang lain.

Itulah sebabnya mengapa saya ingin menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat batu bata lain yang baik, temboknya juga tidaklah terlalu jelek. Buktinya satu pengunjung berkata, Tembok yang indah. Tembok itu masih ada di sana sampai sekarang, dua puluh tahun kemudian, tapi saya sudah lupa di mana tepatnya kedua batu bata yang terpasang miring itu. Saya benar-benar tidak dapat melihatnya lagi.

Berapa orang yang mengakhiri hubungan cinta atau bahkan bercerai karena apa yang mereka lihat pada pasangannya hanyalah dua batu bata jelek? Berapa banyak yang menjadi depresi bahkan melakukan bunuh diri, karena yang bisa mereka lihat pada dirinya hanyalah dua batu bata jelek. Sebenarnya, ada banyak, banyak sekali batu bata baik yang terpasang sempurna di atas, bawah, kiri dan kanannya tapi seringkali kita tidak bisa melihatnya. Namun, setiap kali kita memandang, mata kita hanya berfokus pada kesalahan. Hanya kesalahan yang terlihat, dan kita merasa hanya kesalahan yang ada, maka kita ingin untuk menghancurkannya. Dan kadang, menyedihkan, kita benar-benar menghancurkan tembok yang indah tersebut.

Kita semua memiliki dua batu bata jelek, tapi batu bata-batu bata yang terpasang sempurna di diri kita jauh lebih banyak daripada kesalahannya. Sekali kita bisa melihat ini, keadaan sebenarnya tidaklah terlihat terlalu buruk. Tidak hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menikmati hidup bersama dengan pasangan. Mungkin ini adalah kabar buruk bagi pengacara peceraian, tapi ini adalah kabar baik bagi anda.

Saya telah menceritakan hal ini berkali-kali. Pada suatu kesempatan, seorang pekerja bangunan datang dan menceritakan sebuah rahasia profesinya. Kami pekerja bangunan selalu membuat kesalahan, katanya, tapi kami mengatakan kepada klien bahwa ini adalah fitur unik yang tidak terdapat di rumah lain pada perumahan yang sejenis. Dan kami menagih bayaran extra ribuan dollar untuk itu!

Jadi fitur unik di rumah anda mungkin berawal dari sebuah kesalahan. Sama halnya, apa yang anda sangka sebagai kesalahan pada diri anda, pasangan anda, atau dalam hidup secara umum, dapat menjadi fitur unik, memperkaya waktu anda di sini, sewaktu anda berhenti berfokus padanya.

Sumber: Two Bad Bricks oleh Ajahn Brahm - Wednesday, 01 December 2004

Grow your value


Beberapa hari yang lalu saat sedang berjalan-2 di Mall Taman Anggrek - Jakarta, saya kebetulan masuk di sebuah toko perhiasan dan selintas melihat percakapan yang menarik antara seorang pembeli dan penjual. Mereka sedang terlibat tawar menawar sebuah kalung mutiara yang cukup indah, dan kelihatannya termasuk salah satu koleksi unggulan dari toko tersebut. Setelah tawar menawar beberapa saat, si pembeli akhirnya memutuskan untuk keluar dari toko itu, karena dianggapnya harga barang tersebut mahal.

Selang beberapa menit kemudian, ada pembeli lain yang masuk, dan kemudian mengamati kalung mutiara yang tadi. Dia kemudian mencoba sejenak di lehernya, dan setelah dirasa cocok, tanpa tawar menawar langsung dibayarnya barang tersebut dan keluar. Apa yang menarik dari kedua kejadian tadi ?

Barang yang sama, tapi dipersepsikan berbeda oleh dua orang. Tentu, yang membedakan persepsi keduanya adalah uang yang dimiliki oleh masing-2 orang. Semakin banyak uang yang anda miliki, tentu semakin murah harga barang tersebut dimata anda.

Saya tertarik untuk membahas justru dari sisi orang pertama.

Apa yang kira-2 dilakukan oleh orang tadi setelah gagal menawar
barang tersebut ? Bila dia memang serius ingin membeli barang tersebut, mungkin dia akan mulai masuk ke toko-2 lain, mencari-2 yang lebih murah. Bila setelah `berjuang' keliling mall dan tidak juga menemukan barang yang harganya sesuai dengan isi kantongnya, mungkin dia mencoba mencari di tempat lain, atau mungkin juga mengurungkan niat untuk membelinya....

Fokus dari orang pertama ini adalah lebih kepada jumlah uang yang
dia miliki, dibanding degan nilai dari barang tersebut bagi dirinya. Jika merujuk kepada teori RichDad-nya Kiyosaki, dikatakan disana bahwa orang rata-2 melihat dari seberapa besar pendapatannya, lalu menekan pengeluarannya, sedang orang sukses elihat dari sisi pengeluarannya, lalu meningkatkan pendapatannya.

Dalam lingkup kehidupan, bukankah sebagian besar dari kita juga memiliki Sikap seperti orang pertama itu ?

Saat kita menghadapi masalah, kita selalu mengeluh mengapa kita yang `kecil' ini mendapat masalah seberat itu.

James Gwee dalam Ultimate Power Motivation di Senayan kemarin mengatakan, BAHWA YANG MENJADI POKOK PERSOALAN BUKAN BESAR KECILNYA
MASALAH, TAPI BESAR KECILNYA VALUE ANDA.

Begitu value anda ditingkatkan, maka masalah tersebut akan menjadi kecil di mata ,bukankah anda saat ini sudah sangat mahir makan dengan sendok dan garpu, suatu hal yang menjadi masalah besar saat anda berusia dua tahun ?

Dan bukankah anda saat ini sudah sangat mahir bermain internet, sehingga anda bisa ikut milis dan membaca newsletter ini, suatu hal yang mungkin sangat asing dan sukar beberapa tahun yang lalu ?

Sayangnya, di dunia di mana kita tinggal ini, tidak semua orang mau berusaha untuk meningkatkan value di dalam diri mereka.

Daripada berusaha capek-2 meningkatkan value, mereka lebih memilih untuk `menetapkan standard' mereka sendiri terhadap dunia ini. Sebagai contoh, ada dari mereka yang mungkin berkata ,"Karena kemampuan bahasa Inggris saya jelek, saya jadi tidak tertarik membaca buku bahasa Inggris. Kalau ada terjemahannya, mungkin saya mau baca". Standard bahasa Inggris mereka sudah dipatok di nilai tertentu, dan daripada meningkatkan value standardnya, mereka lebih memilih buku terjemahan yang `lebih sesuai' dengan standard mereka. Di sisi lain, ada juga mereka yang berusaha `meningkatkan value' standard mereka dengan memaksa diri membaca buku bahasa Inggris sambil membuka-2 kamus.

Tidak ada yang salah dengan pilihan anda, apakah mau mematok standard atau meningkatkan standard value anda. Ini semua hanyalah pilihan anda pribadi dalam hidup.

Hanya saja, apabila anda mematok standard anda di satu titik tertentu, jangan mengeluh terhadap kerasnya kehidupan dan masalah yang datang kepada anda. Ingat, bukan besar kecilnya masalah yang menjadi pokok dalam kehidupan ini, tapi besar kecilnya value anda.

Dan ada satu prinsip yang luar biasa yang dikatakan oleh Andrie Wongso tentang hal ini, "KALAU ANDA KERAS TERHADAP DIRI ANDA, MAKA KEHIDUPAN AKAN LUNAK KEPADA ANDA. SEBALIKNYA APABILA ANDA LUNAK KEPADA DIRI ANDA, MAKA KEHIDUPAN AKAN KERAS KEPADA ANDA". Jadi, lakukan pilihan yang terbaik, dan dapatkan hasilnya.

Sukses untuk anda !

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Kegagalan adalah Ibu Kandung Kesuksesan



Dalam lapangan kehidupan apa pun yang kita geluti, kita harus berjuang keras meraih impian, cita-cita, dan tujuan kita. Tetapi tidak selalu kita bisa meraih apa yang kita inginkan. Kita pasti pernah menghadapi kegagalan. Bahkan kadang mengalami beberapa kali. Akibatnya, kita merasa down, berkecil hati, bahkan patah arang.

Sesungguhnya, setiap rintangan, kegagalan, bahkan kesuksesan itu sendiri ada makna di dalamnya. Ada hikmah, ada pelajaran, ada mutiara terpendam di dalamnya. Apa maknanya?

Kegagalan sesungguhnya merupakan batu uji kesiapan kita untuk meraih keberhasilan. Kegagalan mengingatkan kita pada perkara apa yang harus diperbaiki atau dimatangkan. Apakah itu usaha yang harus diperkeras, persiapan harus diperbaiki, cara atau teknik harus dimodifikasi, atau waktu pelaksanaannya harus lebih tepat.

Jika kita bisa memperbaiki diri dan bangkit lagi setelah kegagalan sebelumnya, yang pasti kekuatan dan potensi keberhasilan kita akan jauh lebih besar. Kegagalan, bila disikapi secara positif dan konstruktif, pasti mendatangkan kekuatan dorongan yang luar biasa. Inilah the power behind failure, kekuatan di balik kegagalan.

Sukses tanpa kegagalan seperti sukses yang prematur. Tidak ada sukses yang sempurna tanpa melalui kegagalan. Itulah sebabnya, kegagalan disebut sebagai ibu kandung kesuksesan.

Sumber: Kegagalan adalah Ibu Kandung Kesuksesan oleh Andre Wongso


karakter

Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimana adanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percaya diri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru. Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seeorang memaafkan orang lain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasa benci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar,tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengan sungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya. Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untuk disalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu dari kacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih suka membicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicara mengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripada frustasi, lebih suka memuji daripada mengecam.

Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya. Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepati janjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak suka karakter berkhianat.

Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hati justru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisa bersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk. Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain. Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yang dibawahnya tidak merasa minder.

Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukai oleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargai karena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi. Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak suka mengada-ada, pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta. Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih ideal bila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekor ular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikan diri sendiri.

Karena tidak semua orang dikaruniai tempramen ceria, maka keceriaan tidak harus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceria adalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selalu berusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain, juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorong semangat orang lain.

Orang yang "Easy Going" menganggap hidup ini ringan. Dia tidak suka membesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalah besar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir dengan masa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.

Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukan saja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi orang lain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi kedua belah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Dia selalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

Lamar Boschman -
"When I worship, I would rather my heart be without words than my
words be without heart."

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Ambisi dapat menjadi racun


Kebanyakan kita selalu hidup dipenuhi dengan ambisi, walaupun hal itu tidaklah salah, sebab hidup tanpa ambisi sama sekali menjadikan kita kosong, tanpa tujuan dan monoton. Yang menjadi salah serta menimbulkan masalah adalah kita diperbudak ambisi yang menimbulkan mimpi-mimpi muluk tanpa melihat realitas lagi.

Sebagai contoh seseorang yang bercita-cita membangun gedung pencakar langit, tentu saja diperlukan kerja keras untuk membuat dulu fondasinya, agar bangunan kokoh dan aman. Tetapi, seseorang yang hanya dipenuhi ambisi untuk menciptakan/memiliki gedung pencakar langit, dia bisa berbuat di luar nalar, tidak melihat realitas lagi, tanpa memedulikan apakah fondasi untuk cita-citanya tersebut sudah direncanakan dan dibuat sebaik-baiknya.

Demikian juga dengan kehidupan, kita sering kali hanya mengejar apa yang namanya harta benda, kita menimbun sebanyak-banyaknya, tetapi kita lengah untuk belajar bagaimana harta benda itu bisa tetap kita miliki dan bertumbuh dalam segala cuaca kehidupan. Yang terpenting harta itu membuat kita hidup bahagia, bukan membuat susah dan gelisah karena takut dirampok, takut kehilangan dan sebagainya.

Banyak orangtua merasa tenang jika sudah bisa mempunyai harta yang dicita-citakan untuk diwariskan kepada anak-anaknya. Menurut orang yang berpikiran seperti itu, semakin banyak harta yang bisa aku berikan kepada anak, akan lebih baik dan tenanglah dirinya menjalankan sisa hari tuanya.

Mewariskan harta benda yang berlimpah kepada anak-anak juga bukan hal yang dilarang! Tetapi, alangkah bijaksananya kita sebagai orangtua bila bisa mulai mengajari anak-anak kita untuk memelihara dan menumbuhkan harta yang sudah kita limpahkan kepada mereka.

Kita melihat perusahaan keluarga di negara-negara maju, seperti Amerika dan Eropa. Terkesan sampai sekarang hal itu tetap ada dan bertambah maju dengan total aset yang semakin bertambah. Berbeda dengan perusahaan keluarga yang berada di Tanah Air, kita melihat begitu sang orangtua meninggal dan mewariskan kepada penerusnya, yang terjadi adalah perebutan kekuasaan, dan ironisnya warisan tersebut dipecah-pecah untuk dimiliki pribadi-pribadi dan menjadi berkeping-keping, sehingga menjadi perusahaan kecil yang harus kembali bangkit dan merintis secara baru lagi, sehingga tidak jarang kita melihat perusahaan yang tadinya besar sekarang berubah menjadi perusahaan baru yang berumur tidak lama karena tidak tahan dilibas keadaan dan persaingan ketat dunia usaha.

Penulis pernah merenung tidak mengerti, kala mendapati kenyataan seorang sahabat dilarang orangtuanya untuk menikah dengan anak orang kaya yang berlimpah harta benda. Malah orangtua sahabat tersebut memberi nasihat kepada anak gadisnya untuk memilih seorang karyawan di perusahaannya, dengan keteria bahwa orang itu pintar, berbakat dalam bidangnya, serta berdedikasi dalam pekerjaan.

Dalam pemikiran kebanyakan orang pasti bertanya: "Kenapa harus repot-repot mencari yang baru akan mentas, kalau sudah ada yang berlimpah harta kekayaan." Itu dilakukan setelah melihat kenyataan betapa banyak anak-anak yang mendapat warisan berlimpah menjadi seorang manusia yang hanya bisa menghambur-hamburkan uang dengan segala ambisinya. Seberapa banyak pun jumlahnya harta warisan orangtua bisa habis, bahkan dalam waktu cepat, jika pewarisnya tidak dibekali pendidikan yang baik untuk mengelola aset dan akhlaknya. Sedangkan seorang yang mempunyai bakat serta kerja keras dan berdedikasi, akan mampu menjadi seseorang yang sukses, dan tentu saja yang berpotensi mempunyai harta berlimpah. Itu dia dapatkan sebagai bukti perjuangan hidupnya, bukan hanya sebagai penerima warisan, tetapi pencipta kelimpahan untuk diri dan keluarganya.


Besar Pasak daripada Tiang

Nah, pepatah itu sangat popular, dan memang demikianlah keadaan keuangan kita yang masih berada di tingkat menengah ke bawah. Kita bekerja mengejar karier, agar mendapat penghasilan yang lebih besar, tetapi sejalan dengan itu pengeluaran kita pun bertambah besar seiring dengan keadaan, bertambah anak, biaya pendidikan, belum lagi biaya hidup yang lebih maju dari pada upah kita di tempat bekerja. Dengan siklus yang demikian, banyak pasangan muda frustasi dalam menjalani hidup.

Sistem pendidikan di negara kita saat ini adalah mendidik anak untuk mengasah otak, agar mendapat nilai bagus untuk tiap mata pelajaran, sehingga jangan heran ketika anak-anak yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, selepas SMU saja pergi untuk bekerja sebagai tenaga administrasi ringan, mereka kesulitan beradaptasi dengan pekerjaan dan lingkungannya.

Banyak anak lulusan perguruan tinggi melamar pekerjaan dengan membawa ijazah yang berisi nilai bagus, tetapi begitu bekerja yang dianggap sesuai dengan bidang pendidikannya, mereka tidak bisa menyesuaikan tuntutan pekerjaan. Mereka tidak siap menjadi profesional, mereka kurang gigih dan kurang berdedikasi.

Nah, mengapa hal itu terjadi? Sebab, anak-anak tersebut hanya mendapatkan pendidikan sekitar mata pelajaran, yaitu bagaimana mendapat nilai bagus! Mereka tidak dibekali dengan bagaimana mereka harus mengembangkan diri keluar dari apa yang didapat dari dalam kelas. Mereka harus banyak belajar dan bertanya, membuka wawasan dan mendengarkan saran dan yang terpenting berani menerima kritikan untuk bisa maju.

Belum lama ini, penulis terkagum-kagum akan sistem pendidikan yang diterapkan suatu perguruan tinggi, ketika dalam hal mendidik siswan mereka mengembangkan perkembangan pribadi dan daya juang mereka. Sebagai contoh, untuk bisa masuk dalam Club Senior yang diyakini oleh juniornya, bahwa dalam club/kelompok itu mereka bisa mendapatkan banyak wawasan dan pelajaran dari para senior, melebihi yang diberikan dosen di dalam kelas.

Untuk memasuki Club Senior, kapasitas yang diterima hanya 500 orang. Parajunior yang berjumlah 6.000 orang harus mendaftar dengan antrean yang melelahkan, dan disaring melalui tiga gelombang penyaringan selama tiga minggu berturut-turut.

Yang membuat kagum, para junior itu rela berangkat dari rumah jam empat Subuh, agar sampai di tempat antrean 1 jam kemudian untuk mendapat nomer antrean di bawah angka seratus! Sehingga, tidaklah heran untuk para yunior yang berhasil masuk dalam kelompok itu menjadi suatu kebanggaan tersendiri. Para Senior yang ada dalam kelompok itu tidak mengecewakan mereka, dalam memberi pengalaman-pengalaman dan ilmu-ilmun mereka.

Dari contoh di atas, kita melihat Club Senior itu sudah menyaring antara anak-anak yang gigih dengan anak-anak yang malas sebab tidak jarang kita mendengar dari para yunior yang tidak mau ambil bagian dalam kegiatan senior itu berkata dengan sinis: "Buat apa, susah-susah masuk ke situ. Toh pelajaran yang benar kita dapat didalam kelas, dengan dosen-dosen yang punya kewajiban karena kita sudah keluarkan biaya kuliah."

Penting kita melihat dan mengetahui peluang yang disodorkan ke hadapan kita untuk hidup lebih maju dan bahagia. Sekali lagi jangan terobsesi dengan ambisi, tetapi prestasi hiduplah yang harus kita raih, dan perlu diingat prestasi sukses bukan hanya berupa tumpukan harta benda, tetapi termasuk di dalamnya kebahagiaan lahir batin.

Sumber: Prestasi dan Ambisi oleh Lianny Hendranata

Start your Bad Decision Today


Adnan Khasogi, yang termasuk salah satu orang paling kaya di dunia, pernah ditanya oleh wartawan tentang rahasia suksesnya. Adnan menjawab "Good Decision, Good Decision, and Good Decision". Wartawan itu lalu bertanya lagi, apa yang menyebabkan dia bisa membuat keputusan yang tepat tersebut. Adnan menjawab "Experiences, Experiences, and Experiences".

Wartawan itu masih penasaran, dan bertanya, hal apa yang menyebabkan Adnan mempunyai pengalaman. Adnan menjawab "Bad Decision, Bad Decision, and Bad Decision". Apa yang dikatakan oleh Adnan Khasogi diatas menunjukkan bahwa kesuksesan yang diraihnya saat ini adalah hasil dari kesalahan-2 tindakan yang pernah dia lakukan sebelumnya, proses belajar dari kesalahan-2 tersebut menjadi suatu pengalaman, dan pengulangan tindakan menjadi lebih baik.

Kita selama ini selalu berpendapat, bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Tapi banyak orang yang keliru menafsirkan definisi dari pengalaman itu sendiri. Jika dalam kehidupan anda pernah patah hati misalnya, apakah itusuatu pengalaman ? Kalau patah hati itu membuat kehidupan anda menjadi suram, dunia terasa hampa, dan anda menjadi enggan untuk berbincang dengan orang lain, itu bukanlah pengalaman. Itu lebih tepat disebut tragedi. Namun jika anda mau melihat lebih dalam, apa yang salah dari hubungan anda, dan belajar untuk tidak mengulanginya lagi lain kali, itulah pengalaman.

PENGALAMAN ITU BUKAN APA YANG TERJADI PADA KEHIDUPAN KITA, NAMUN APA YANG KITA LAKUKAN KETIKA ADA SESUATU YANG TERJADI DALAM KEHIDUPAN KITA

Ada sebagian orang yang ingin jalan pintas di dalam hidupnya, dimana mereka ingin langsung membuat `good decision' dalam setiap langkahnya. Mereka ingin melompati tahapan `experiences' dan `bad decision'.

Karena ingin langsung sempurna, langsung sekali jadi, maka mereka membuat banyak sekali analisa dari berbagai sisi. Satu halangan kecil bisa membuat mereka menunda membuat `good decision' tersebut. Pada akhirnya, `good decision' itu tidak akan pernah dibuat, karena waktu mereka habis untuk selalu melakukan analisa dan analisa.

Coba amati di lingkungan sekitar kita. Adakah rekan anda, kerabat atau kolega bisnis yang seperti itu ? Lima tahun yang lalu mungkin mereka pernah mengatakan akan menjadi seorang wirausaha. Tapi sampai hari ini keinginan itu tetap sebuah keinginan. Mereka akan berkata bahwa ada hal-2 yang menghalangi niat mereka, apakah itu pasar yang lagi sepi, harga bahan baku yang mahal, krisis moneter, dollar lagi tinggi, dsb.

Tapi sebenarnya bukan itu yang menghalangi mereka. Halangan mereka yang utama adalah mereka takut bila ternyata `good decision' yang mereka buat ternyata sebuah `bad decision'. Sebenarnya apakah yang menakutkan dari membuat sebuah `bad decision' ?

Sebenarnya `bad decision' hanyalah sebuah proses, dan tidak final sifatnya. Proses ini akan menjadi kesalahan jika kita keliru mempersepsikannya serta memberikan respon yang keliru. Dan kesalahan akan menjadi kegagalan jika kita terus menerus memberikan respon yang keliru terhadapnya. Orang-orang sukses adalah mereka yang mengubah `bad decision' menjadi suatu pelajaran, memperbaiki keputusan mereka dan melakukan dengan cara yang berbeda.

Karena sesungguhnya, jalan menuju kesuksesan pasti melewati suatu kegagalan. Hanya mereka yang berani membuat `bad decision' dan belajar daripadanya yang akan mencapai tujuannya. Sukses untuk anda!

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)