Wise Word

Tampilkan postingan dengan label soul story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label soul story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 25 September 2008

hafalan sholat delisa

Ada sebuah keluarga di Lhok Nga - Aceh, yang selalu menanamkan ajaran Islam dalam kesehariannya. Mereka adalah keluarga Umi Salamah dan Abi Usman. Mereka memiliki 4 bidadari yang solehah: Alisa Fatimah, (si kembar) Alisa Zahra & Alisa Aisyah, dan si bungsu Alisa Delisa.

Setiap subuh, Umi Salamah selalu mengajak bidadari-bidadarinya sholat berjama'ah. Karena Abi Usman bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal tanker perusahaan minyak asing - Arun yang pulangnya 3 bulan sekali. Awalnya Delisa susah sekali dibangunkan untuk sholat subuh. Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah. Setiap sholat jama ' ah, Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat keras-keras agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan sholat itu. Umi Salamah mempunyai kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas kepada anak-anaknya yang bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Begitu juga dengan Delisa yang sedang berusaha untuk menghafal
bacaan sholat agar sempurna. Agar bisa sholat dengan khusyuk. Delisa berusaha keras agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu Abi Usman pun berjanji akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal bacaan
sholat dengan sempurna. Sebelum Delisa hafal bacaan sholat itu, Umi Salamah sudah membelikan seuntai kalung emas dengan gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa senang sekali dengan kalung itu. Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi entah mengapa, Delisa tak pernah bisa menghafal bacaan sholat dengan sempurna.

26 Desember 2004
Delisa bangun dengan semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya nyaris sempurna, kecuali sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa lupa bacaan sujudnya. Empat kali sujud, empat kali Delisa lupa. Delisa mengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di sekolah ia punya waktu banyak untuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa. Hari itu sekolah ramai oleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran Alisa Delisa. Delisa maju, Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad Rahman tentang bagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya. "Kalo orang yang khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya satu. Nah jadi kalian sholat harus khusuk. Andaikata ada
suara ribut di sekitar, tetap khusuk" Delisa pelan menyebut "ta ' awudz". Sedikit gemetar membaca "bismillah". Mengangkat tangannya yang sedikit bergetar meski suara dan hatinya pelan-pelan mulai mantap. "Allahu Akbar".

Seratus tiga puluh kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai bertakbiratul ihram, persis ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar bumi terbelah seketika! Merekah panjang ratusan kilometer. Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian mencuat. Mengirimkan pertanda kelam menakutkan. Gempa menjalar dengan kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias lebur seketika. Lhok Nga menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa, tepat ketika Delisa mengucapkan kata "wa-ma-ma-ti", lantai sekolah bergetar hebat. Genteng sekolah berjatuhan. Papan tulis lepas, berdebam menghajar lantai. Tepat ketika Delisa bisa melewati ujian pertama kebolak-baliknya, Lhok Nga bergetar terbolak-balik.
Gelas tempat meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh. Pecah berserakan di lantai, satu beling menggores lengan Delisa. Menembus bajunya. Delisa mengaduh. Umi dan ibu-ibu berteriak di luar. Anak-anak berhamburan berlarian. Berebutan keluar dari daun pintu. Situasi menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"!

"Innashalati, wanusuki, wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya, wa-ma-ma-ti. .."
Delisa gemetar mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya Allah, Delisa takut... Delisa gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah membasahi baju putihnya. Menyemburat merah. Tapi bukankah kata Ustadz Rahman, sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak saat sholat ketika punggungnya digigit kalajengking? Delisa ingin untuk pertama kalinya ia sholat, untuk pertama kalinya ia bisa membaca bacaan sholat dengan sempurna, Delisa ingin seperti sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk, ya Allah... Gelombang itu menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok sekolah. Tembok itu rekah seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi yang berdiri di depan pintu kelas menunggui Delisa, berteriak keras ... SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak mempedulikan apa yang terjadi.Delisa ingin khusuk. Tubuh Delisa terpelanting. Gelombang tsunami sempurna sudah membungkusnya. Delisa megap-megap. Gelombang tsunami tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa, membanting tubuhnya keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih bersisa. Delisa terus memaksakan diri, membaca takbir setelah "i ' tidal..." "Al-la-hu- ak- bar..." Delisa harus terus membacanya! Delisa tidak peduli tembok yang siap menghancurkan kepalanya. Tepat Delisa mengatakan takbir sebelum sujud itu, tepat sebelum kepalanya menghantam tembok itu, selaksa cahaya melesat dari "Arasy
Allah." Tembok itu berguguran sebelum sedikit pun menyentuh kepala mungil Delisa yang terbungkus kerudung biru. Air keruh mulai masuk, menyergap Kerongkongannya. Delisa terbatuk. Badannya terus terseret. Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki kanannya menghantam pagar besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis kanannya. Delisa sudah tak bisa menjerit lagi. Ia sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum berliter air keruh. Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darah menyembur dari mulutnya.

Saat tubuh mereka berdua mulai perlahan tenggelam, Ibu Guru Nur melepas kerudung robeknya. Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan sekencang yang ia bisa dengan kerudung itu. Lantas sambil menghela nafas penuh arti, melepaskan papan itu dari tangannya pelan-pelan, sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang diatasnya. "Kau harus menyelesaikan hafalan itu, sayang...!" Ibu Guru Nur berbisik sendu. Menatap sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. Ibu Guru Nur bersiap menjemput syahid.

Minggu, 2 Januari 2005
Dua minggu tubuh Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya tersangkut di semak belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yang pucat tak berdarah. Smith, seorang prajurit marinir AS berhasil menemukan Delisa yang tergantung di semak belukar, tubuhnya dipenuhi bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya, berkemilau, menakjubkan! Delisa segera dibawa ke Kapal Induk John F Kennedy. Delisa dioperasi, kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di gips. Luka-luka kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus baret di sekujur tubuhnya.

Aisyah dan Zahra, mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah juga sudah ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan. Abi Usman hanya memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari pingsan. Prajurit Smith memutuskan untuk menjadi mu ' alaf setelah melihat kejadian yang menakjubkan pada Delisa. Ia mengganti namanya menjadi Salam. Tiga minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk, akhirnya ia diijinkan pulang. Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama para korban lainnya di tenda-tenda pengungsian.

Hari-hari diliputi duka. Tapi duka itu tak mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa kembali ke rumahnya yang dibangun kembali dengan sangat sederhana. Delisa kembali bermain bola, Delisa kembali mengaji, Delisa dan anak-anak korban tsunami lainnya, kembali sekolah dengan peralatan seadanya. Delisa kembali mencoba menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Ia sama sekali sulit menghafalnya. "Orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu, mungkin karena hatinya Delisa. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata Ubai salah seorang relawan yang akrab dengan Delisa.

21 Mei 2005
Ubai mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah bukit. Hari itu Delisa sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak terbolak-balik. Delisa bahkan membaca doa dengan sempurna. Usai sholat, Delisa terisak. Ia bahagia sekali. Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah. Mereka belajar menggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember plastik. Sebelum pergi meninggalkan bukit itu, Delisa meminta ijin mencuci tangan di sungai dekat dari situ. Ketika ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor
burung belibis terbang di atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya. Delisa terperanjat. Mengangkat kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang menjauh. Ketika itulah Delisa menatap sesuatu di seberang sungai. Kemilau kuning. Indah menakjubkan, memantulkan cahaya matahari senja. Sesuatu itu terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah. Delisa gentar sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut. Ada huruf D disana. Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatas semak belukar yang merah buahnya. Kalung itu tersangkut
di tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka. Sempurna kerangka manusia. Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu.
UMMI....

Rabu, 24 September 2008

Syukur Seorang Nenek



Seorang janda tua pernah mengundang saya untuk selamatan di rumahnya. Perempuan yang sudah nenek-nenek itu saya tahu mata pencahariannya hanya berdagang kue keliling kampung yang hasilnya tidak seberapa. Ia hidup sendirian di Jakarta, tanpa sanak keluarga. Dan ia tinggal di emperan rumah oang lain atas kebaikan hati si tuan rumah. Hari itu, selepas salat Jum'at ia ingin mengadakan syukuran.

Saya pun segera datang tepat pada waktunya. Tidak berapa lama kemudian datang pula ketua RT, imam masjid, dan seorang merbotnya. Disusul dengan kehadiran si tuan rumah yang selama bertahun-tahun memberikan emperan rumahnya untuk ditempati.

Sudah setengah jam saya tunggu yang lainnya tidak ada yang datang lagi. Jadi saya tanya, "Masih ada yang ditunggu Nek?" Nenek itu menggeleng, "Tidak ada, Ustaz. Yang saya undang hanya lima orang, termasuk Ustaz. Maklum, tempatnya sempit."

Saya tersentuh. Orang kecil ini masih juga ingin mengadakan syukuran kepada Allah dalam ketidakberdayaannya, sementara banyak orang lain yang rumahnya besar-besar tidak pernah diinjak tetangganya untuk selamatan.

"Apa tujuan syukuran ini, Nek?" saya bertanya pula. "Begini, Ustaz," jawab si nenek. "Saya bersyukur kepada Allah karena sejak bulan depan saya bisa mengontrak kamar ini, sebulan tiga ribu rupiah. Tadinya tuan rumah menolak, tidak mau menerima uang saya. Tapi akhirnya ia tidak keberatan, sehingga utang budi saya tidak
terlalu berat."

Masya Allah. Alangkah mulianya hati nenek itu. Ia yang sebetulnya masih perlu disedekahi, tidak mau membebani orang lain tanpa imbalan. Dan alangkah mulianya pula si tuan rumah yang tidak mau mengecewakan hati seoang nenek yang ingin terbebas dari perasaan bergantung pada orang lain.

Berhenti Menjadi Pengemis


Selama ini, saya selalu menyediakan beberapa uang receh untuk berjaga-jaga kalau melewati pengemis atau ada pengemis yang menghampiri. Satu lewat, ku beri, kemudian lewat satu pengemis lagi, kuberi. Hingga persediaan receh di kantong habis baru lah aku berhenti dan menggantinya dengan kata "maaf" kepada pengemis yang ke sekian.

Tidak setiap hari saya melakukan itu, karena memang pertemuan dengan pengemis juga tidak setiap hari. Jumlahnya pun tidak besar, hanya seribu rupiah atau bahkan lima ratus rupiah, tergantung persediaan.

Sahabat saya, Diding, punya cara lain. Awalnya saya merasa bahwa dia pelit karena saya tidak pernah melihatnya memberikan receh kepada pengemis. Padahal kalau kutaksir, gajinya lebih besar dari gajiku. Bahkan mungkin gajiku itu besarnya hanya setengah dari gajinya. Tapi setelah apa yang saya lihat sewaktu kami sama-sama berteduh kehujanan di Pasar Minggu, anggapan saya itu ternyata salah.

Seorang ibu setengah baya sambil menggendong anaknya menghampiri kami seraya menengadahkan tangan. Tangan saya yang sudah berancang-ancang mengeluarkan receh ditahannya. Kemudian Diding mengeluarkan dua lembar uang dari sakunya, satu lembar seribu rupiah, satu lembar lagi seratus ribu rupiah. Sementara si ibu tadi ternganga entah apa yang ada di pikirannya sambil memperhatikan dua lembar uang itu.

"Ibu kalau saya kasih pilihan mau pilih yang mana, yang seribu rupiah atau yang seratus ribu?" tanya Diding

Sudah barang tentu, siapa pun orangnya pasti akan memilih yang lebih besar. Termasuk ibu tadi yang serta merta menunjuk uang seratus ribu. "Kalau ibu pilih yang seribu rupiah, tidak harus dikembalikan. Tapi kalau ibu pilih yang seratus ribu, saya tidak memberikannya secara cuma-cuma. Ibu harus mengembalikannya dalam waktu yang kita tentukan, bagaimana?" terang Diding.

Agak lama waktu yang dibutuhkan ibu itu untuk menjawabnya. Terlihat ia masih nampak bingung dengan maksud sahabat saya itu. Dan, "Maksudnya... yang seratus ribu itu hanya pinjaman?"

"Betul bu, itu hanya pinjaman. Maksud saya begini, kalau saya berikan seribu rupiah ini untuk ibu, paling lama satu jam mungkin sudah habis. Tapi saya akan meminjamkan uang seratus ribu ini untuk ibu agar esok hari dan seterusnya ibu tak perlu meminta-minta lagi," katanya.

Selanjutnya Diding menjelaskan bahwa ia lebih baik memberikan pinjaman uang untuk modal bagi seseorang agar terlepas dari kebiasaannya meminta-minta. Seperti ibu itu, yang ternyata memiliki kemampuan membuat gado-gado. Di rumahnya ia masih memiliki beberapa perangkat untuk berjualan gado-gado, seperti cobek, piring, gelas, meja danlain-lain.

Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya kami bersama-sama ke rumah ibu tadi yang tidak terlalu jauh dari tempat kami berteduh. Hujan sudah reda, dan kami mendapati lingkungan rumahnya yang lumayan ramai. Cocok untuk berdagang gado-gado, pikirku.

***

Diding sering menyempatkan diri untuk mengunjungi penjual gado-gado itu. Selain untuk mengisi perutnya -dengan tetap membayar- ia juga berkesempatan untuk memberikan masukan bagi kelancaran usaha ibu penjual gado-gado itu.

Belum tiga bulan dari waktu yang disepakati untuk mengembalikan uang pinjaman itu, dua hari lalu saat Diding kembali mengunjungi penjual gado-gado. Dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan, ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjaman itu ke Diding. "Terima kasih, Nak. Kamu telah mengangkat ibu menjadi orang yang lebih terhormat."

Diding mengaku selalu menitikkan air mata jika mendapati orang yangdibantunya sukses. Meski tak jarang ia harus kehilangan uang itu karena orang yang dibantunya gagal atau tak bertanggung jawab. Menurutnya, itu sudah resiko. Tapi setidaknya, setelah ibu penjual gado-gado itu mengembalikan uang pinjamannya berarti akan ada satu orang lagi yang bisa ia bantu. Dan akan ada satu lagi yang berhenti meminta-minta.

Ding, inginnya saya menirumu. Semoga bisa ya.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Bangkit Setelah Masa-masa Terpahit


PENULIS, humanis, dan pendidik, Leo F Buscaglia (1924-1998), menulis: "To hope is to risk pain. To try is to risk failure. But risk must be taken, because the greatest hazard in life is to risk nothing¦."

Harapan dan kehidupan. Dua hal yang sangat mudah diucapkan, tetapi menjadi tantangan besar pada Irwanto (49) dan Sartono Mukadis (59).

Pertanyaan "why me", misalnya, lebih mendominasi alam pikiran yang melayang liar menyangkali realitas bahwa tubuh yang terkapar itu adalah miliknya. Padahal, Sartono tahu persis bahwa pertanyaan seperti itu hanya akan mendamparkannya ke dalam sumur tanpa dasar karena jawabannya bisa, "why not you?".

Harapan dengan mudah menguap ditelan kemarahan, kekecewaan, kesedihan, sekaligus ketidakberdayaan ketika seseorang harus menerima kenyataan bahwa kondisi tubuh mereka tidak mungkin kembali seperti semula. Embel-embel profesional, segala teori yang dikuasai, dan kekuatan hati seperti apa pun sempat menjadi tak banyak berarti ketika orang berada pada posisi mengalami. "Kita ini manusia biasa, yang kebetulan menjadi psikolog," ujar Irwanto.

Bukan sesuatu yang kebetulan kalau Sartono dan Irwanto adalah psikolog terkemuka di bidangnya masing-masing. Mereka berteman. Sartono Mukadis adalah pengamat sosial yang tulisan dan komentarnya sering muncul di media massa. Ia menaruh perhatian pada sumber daya manusia. Irwanto menaruh perhatian pada masalah pengembangan anak dan kajian keluarga. Bidang studi itu memberinya gelar doktor dari Purdue University, Indiana, AS, tahun 1992, dan kemudian bekerja di Lembaga Penelitian Universitas Atma Jaya (LPA), Jakarta.

Sejak empat tahun lalu Sartono harus bergantung pada kursi roda setelah kaki kirinya diamputasi karena gangrene sudah merambat naik. Gangguan itu bermula dari luka yang tak kunjung sembuh akibat diabetes. Kelingking kaki kanannya diamputasi jauh sebelum ia berangkat pergi untuk menunaikan ibadah haji pada tahun 1997. Namun, pola makan yang tidak pernah berubah membuat luka serupa muncul di telapak kaki kirinya.

Irwanto adalah korban "skandal medis tanpa nama" (kalau tidak boleh disebut sebagai "malapraktik"). Ia masuk RS Internasional Bintaro pada tanggal 27 Juli 2003 sekitar pukul 23.30 karena merasa tekanan yang sangat kuat di dadanya sehingga ia sulit bernapas.

Perawatan dan obat yang diberikan dokter menghasilkan kelumpuhan dari dada ke sekujur tubuh bagian bawah sekitar pukul 17.00 sehari kemudian. Jiwanya sempat hampir melayang. Diagnosis yang terus berubah dan data rekam medis yang tidak transparan membuat situasinya terus memburuk.

Setelah dirawat selama 60 hari di sebuah rumah sakit di Singapura, Irwanto bertahan hidup. Si pemberi inspirasi melalui pengetahuan dan penelitian-penelitiannya itu kembali memimpin LPA sejak awal Januari 2004. Semangatnya segera tertangkap meski semua pekerjaan dilakukan dengan posisi setengah berbaring. Irene, sang istri, dan seorang perawat selalu mendampingi.

"Dibandingkan Pak Irwanto, penderitaan saya bukan apa- apanya," ujar Sartono dengan nada penuh sesal.

PENDERITAAN sebenarnya tak bisa diperbandingkan karena menyangkut pergumulan seseorang dengan dirinya sendiri. Kecuali satu hal: orang yang mengalaminya melalui proses yang hampir sama untuk sampai pada tahap menerima kenyataan sebagaimana adanya dan kemudian bangkit melanjutkan perjalanan.

"Ketika tiba pada tahap awal menerima dengan ikhlas semua ini, semua jalan seperti dibukakan," tutur Sitti Herawati, istri Sartono, yang akrab disapa Erry.

Bagi Irwanto dan Sartono, bertahan hidup saja tidak cukup kalau tidak bisa memberikan sumbangan bagi kebaikan manusia. Perjalanan kembali menuju ke arah itulah yang harus melewati proses sangat terjal.

Optimisme Sartono pasca- operasi Agustus 2002 memudar ketika mendapati kenyataan ia tak bisa membalikkan tubuhnya sendiri. Penyakit itu membuat jantungnya kena, parunya berair. Kondisi kesehatannya labil.

Sampai empat bulan setelah operasi, Sartono hanya merasa kesuraman yang pekat. Pada saat yang sama sebenarnya keluarganya juga mengalami tekanan luar biasa, pada Erry khususnya. Kesibukan anak- anaknya sehingga tidak selalu bisa menjenguk sang ayah,ketertatihan Erry menghadapi segala persoalan sendiri, tidak ditanggapi dengan bantuan psikologis. Sebaliknya, keluarga itu malah dihakimi dengan berbagai "skenario". Ini sempat membuat Erry down.

"Perasaan terhina dan tidak berarti lagi kuat sekali memenuhi diri saya, karena buang air pun harus dibantu," kata Sartono mengenang. Konflik dengan istri dan anak-anaknya sering tak terhindari. Ketidakmampuannya menyesuaikan diri dengan kondisi fisiknya yang baru acap kali membuatnya terjungkal ke titik nadir. Ia menjadi sangat sensitif, juga cengeng, dan demanding.

"Ia jarang bicara. Maunya tidur terus, susah dibawa cek ke rumah sakit," kata Erry. Saat itu, Sartono merasa hidupnya sudah selesai. Selama dua tahun, kondisi psikologisnya pasang dan surut secara tajam. Sementara di luar, orang menganggap keluarga itu pasti bisa mengatasi masalahnya karena baik Sartono maupun Erry sama-sama psikolog.

Suatu hari, ketika sudah berada di mobil sehabis kontrol ke rumah sakit, seseorang yang tidak dikenal tiba-tiba muncul dan mengatakan, "Pak, Anda jangan depresi ya. Nanti Anda tidak bisa menguatkan orang lain."

Peristiwa itu seperti membuka kesadarannya. Namun, untuk bangkit dan menerima keadaannya, tetap bukan hal yang mudah. Sampai pada suatu hari pada pertengahan bulan Juni tahun 2002, temannya, Aida Ismed Adullah, minta tolong agar Sartono membantunya membuka klinik psikologi di Pulau Batam. Tawaran pertama tak dijawab. "Bergerak saja setengah mati, mana mungkin saya terbang ke Batam?" katanya.

Namun ia sadar, ada masalah riil yang dihadapi. Keuangan keluarga kacau-balau sejak ia sakit. Toh bukan itu motivasi utamanya.
"Perasaan bahwa saya masih dibutuhkan bahwa hidup saya masih berarti, itu yang terutama," tuturnya.

Pertama menginjakkan kaki lagi ke Bandara Soekarno-Hatta berbagai perasaan berkecamuk. Akan tetapi, langkah itu juga menjadi semacam "turning point" yang membangkitkan semangatnya untuk kembali tegak menghadapi dunia nyata.

Sartono tak bisa mengelak bahwa hidupnya kini ditopang oleh 15 jenis obat setiap hari. Kenyataan itu membuatnya harus terus berjuang untuk menerima keadaannya dengan hati ikhlas. Dan itu bukan hal yang mudah¦.

"SANGAT tidak mudah¦," sergah Irwanto. Kondisi "stabil" yang dipahami secara umum tidak berlaku pada Irwanto dan Sartono. Pada mereka, keikhlasan harus direbut dari diri sendiri, di antara perasaan-perasaan lain yang saling berkompetisi dalam bayang-bayang penderitaan yang tak selalu bisa diungkapkan.

"Saya lega ketika akhirnya bisa memaafkan dokter yang menyebabkan saya lumpuh," ujar Irwanto pelan. Kemarahan yang ia pendam hanya mendatangkan rasa sakit. Penyesalan yang ia tumpuk hanya mendatangkan rasa pahit.

Namun, memaafkan bukan berarti melupakan apa yang dilakukan dokter itu terhadap dirinya. Irwanto tidak pernah melupakan peristiwa yang memutar balikkan dunianya dalam sekejap. Begitu pun Irene, sang istri.

"Bagian dada ke bawah benar-benar mati. Saya shock betul. Sebagian tangan langsung tak bisa digerakkan, tapi otak saya bekerja baik," kenangnya. Irwanto sempat berada dalam situasi antara hidup dan mati di RS Bintaro. Lalu keluarga minta agar Irwanto dipindahkan ke RS lain. Diagnosis dokter di situ lain lagi. Kali ini, katanya, ia terserang cytomegalovirus (CMV).

Di RS itu depresi menyerangnya. Ia tidak mau melihat cahaya, tidak mau mendengar suara. Ia bahkan menolak mendengarkan kaset pentas anak sulungnya. "Tidak ada yang terpikir selain, 'Tuhan, pekerjaan saya masih banyak. Apa salah saya? Kenapa saya tidak diambil saja?' Tapi di lain pihak, saya ingin melihat anak-anak saya jadi orang. Saya ingin hidup."

Dalam situasi yang amat menekan itu bukan penghiburan yang didapat, juga bukan dukungan psikologis. Empati dari dokter sangat tipis. Vonis bahwa Irwanto tidak mungkin bertahan disampaikan dokter kepada Irene di lorong rumah sakit. Pandangan bahwa pasien tak lebih dari komoditas terasa ketika ibu dua anak itu ditegur untuk segera membayar kekurangan biaya perawatan. Kalau tidak, hari itu juga Irwanto akan dipindah ke kelas tiga.

Situasi itulah yang membuat Irene nekat membawa Irwanto ke Singapura. Dengan bantuan dana yang dipinjam dari sanak keluarga dan teman-teman, Irwanto dirawat di sebuah rumah sakit di Singapura. "Di sana saya merasa diperlakukan sebagai manusia. Para dokter memeriksa dan mewawancarai saya secara amat teliti," ujar Irwanto. Kemungkinan kekeliruan diagnosis terkuak di rumah sakit itu.

Di Singapura ia punya waktu untuk menemui dirinya sendiri, tetapi masih belum bisa menerima keadaan. Ia baru "terbangun" ketika pada hari keempat dokter datang dan dengan pelahan mengatakan, kecil kemungkinan bagi Irwanto untuk bisa berjalan lagi. "Dokter bilang, tidak ada yang berubah dari Irwanto. Ia bisa berkarya dari kursi roda. Otaknya tidak mengalami cedera apa pun," kenang Irene.

Pertolongan yang lain sering datang tak terduga. Itulah misteri hidup. Di bangsal itu ada Mr Ong yang selalu mengingatkan, "Jangan lawan penyakitmu. Terima apa adanya. Pikirkan apa yang bisa dilakukan ke depan. Jangan melihat ke belakang terus." Optimisme Irwanto terus ditumbuhkan sampai ia mau ikut latihan fisik. "Sangat pelan dan mulai dari awal karena menggerakkan jari tangan pun sakit sekali," katanya.

Menurut Irwanto, para dokter, fisioterapis, konselor, dan semua orang yang berhubungan dengan mereka di RS sangat membesarkan hati. Kemajuan sekecil apa pun selalu mendapat apresiasi. Termasuk ketika, setelah berusaha setengah jam, Irwanto mampu memakai baju sendiri.

Selama delapan minggu sebelumnya, organ pencernaan Irwanto lumpuh. Di Singapura ia mencoba minum susu. Awalnya berhasil, tetapi lalu ususnya berdarah. "Saya down lagi. Tapi Mr Ong bilang, mundur untuk maju. Jangan putus asa."

Kondisi beberapa pasien yang jauh lebih serius, membuat semangat Irwanto semakin besar. Menjelang pulang, Irwanto sudah bisa menggerakkan jari tangannya. Tetapi berat badannya hilang sampai belasan kilo. Masalah lain muncul: ia takut pulang. Takut anak-anaknya malu dengan kondisi ayahnya.

Irene kemudian berusaha menghubungi dua anak perempuannya dan pelan-pelan memberitahu kondisi ayah mereka. "Di luar dugaan, anak sulung kami mengatakan, 'It's OK Ma. This is the way we have to go. Just go¦'. Ketika mengucapkan kalimat itu, Irene meneteskan air mata, Irwanto juga. Sedu sedan mereka memecahkan keheningan siang di ruangan itu.

RITME hidup di rumah keluarga Irwanto pun berubah, disesuaikan dengan kondisi Irwanto, yang hampir semua kegiatan hidupnya harus dibantu. Termasuk buang air besar dan kecil. Ia juga harus memakai popok. "Sehari sebelum bekerja lagi, saya konsultasi sama Irene karena setiap saya bergerak selalu keluar kotoran. Saya khawatir baunya mengganggu orang lain," kata Irwanto.

Menurut Irene, Irwanto sebenarnya takut bertemu teman- teman lamanya, takut melihat reaksi mereka. Tetapi semua itu ternyata tak berdasar. "Ini mukjizat luar biasa," ujarnya setelah melihat tubuhnya tidak bereaksi seperti yang ia khawatirkan.

Sebelum peristiwa pahit itu terjadi, Irwanto banyak membantu teman-temannya di organisasi nonpemerintah memberikan pelatihan mengenai posttraumatic stress disorder (PTSD). Kini ia siap membantu mengatasi PTSD pada para korban cacat akibat ledakan bom. "Barangkali mereka akan lebih percaya, karena kondisi saya sama seperti mereka," ujar Irwanto.

Dalam hal itu, trauma terutama disebabkan oleh rasa sakit yang konstan selama 24 jam. "Pada korban bom, bekas luka- luka yang menganga itu sakitnya bukan main. Pada saya, tangan ini sering saya pukul- pukulkan karena sakitnya enggak keruan. Namun, trauma sebenarnya juga membuat kita bertanya, siapa kita, dan apa artinya semua ini," lanjutnya.

Setelah masa-masa paling pahit terlalui, keluarga mereka harus memperteguh komitmen untuk mendorong dan terus menemani mereka melanjutkan perjalanannya. "Saya sedang menyiapkan buku judulnya Melihat Dunia dari Kursi Roda, kata Sartono.

Irwanto akan melanjutkan penelitian-penelitiannya yang tertunda. Pekan kemarin ia sudah ikut menguji mahasiswa S-3 di Universitas Indonesia di Depok.

Sartono dan Irwanto akan memperpanjang barisan para tokoh yang terus berkarya dalam keterbatasan fisiknya, seperti penyair John Milton dari Inggris yang mengalami kebutaan pada usia 43 tahun. Mereka tegak menghadapi risiko apa pun, demi harapan, kehidupan dan kemanusiaan. Ayo! (MH)

Sumber: KCM - 17 Oktober 2004

Pencuri Impian


Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari sangat menonjol dibanding dengan rekan-2nya, sehingga dia seringkali menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menja di penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika, Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepuk tangan kepadanya.

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat,dan dari tangan dinginnya telah banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari. Si gadis muda bertanya "Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia. Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari ? Saya ingin tahu pendapat anda tentang tarian saya". "Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit",jawab sang pakar.

Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar.Si gadis langsung berlari keluar. Pulang kerumah, dia langsung menangis tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan lagi menari.

Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab. Si ibu bertanya, "Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya. Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah katapun?"

"Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-2 berhenti dari dunia tari", jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Ini tidak adil", seru si ibu muda. "Sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko!"

Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak .... Tidak, saya rasa saya telah berbuat dengan benar. ANDA TIDAK HARUS MINUM ANGGUR SATU BAREL UNTUK MEMBUKTIKAN ANGGUR ITU ENAK. Demikian juga saya. Saya tidak harus menonton anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan satu hal yang perlu anda camkan, bahwa ANDA MESTINYA FOKUS PADA IMPIAN ANDA, BUKAN PADA UCAPAN ATAU TINDAKAN SAYA.

Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian? Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. PUJIAN ITU SEPERTI PEDANG BERMATA DUA. ADA KALANYA MEMOTIVASIMU, BISA PULA MELEMAHKANMU. Dan faktanya saya melihat bahwa sebagian besar PUJIAN YANG DIBERIKAN PADA SAAT SESEORANG SEDANG BERTUMBUH, HANYA AKAN MEMBUAT DIRINYA PUAS DAN PERTUMBUHANNYA BERHENTI. SAYA JUSTRU LEBIH SUKA MENGACUHKANMU, AGAR HAL ITU BISA MELECUTMU BERTUMBUH LEBIH CEPAT LAGI. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya sendiri. TIDAK PANTAS ANDA MEMINTA PUJIAN DARI ORANG LAIN".

"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari ini anda sudah menjadi penari kelas dunia. MUNGKIN ANDA SAKIT HATI PADA WAKTU ITU, TAPI SAKIT HATI ANDA AKAN CEPAT HILANG BEGITU ANDA BERLATIH KEMBALI. TAPI SAKIT HATI KARENA PENYESALAN ANDA HARI INI TIDAK AKAN PERNAH BISA HILANG SELAMA-LAMANYA ...".

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Tutup Lubang atau Gali Lubang


Diwaktu usia saya masih remaja, seorang teman bertanya kepada saya, seberapa lama kamu tinggal dalam kamarmu?, lalu saya berpikir, seingat saya, kamar itu menjadi milik saya sejak saya berusia 10 tahun, jika waktu itu saya berusia 17 tahun, berarti kurang lebih sudah 7 tahun saya tinggali kamar itu. Lalu teman saya bertanya lagi selama 7 tahun kamu tinggal didalam kamarmu, apakah kamu tahu, adakah lantai kamarmu yang lubang sehingga itu membahayakanmu?, saya berpikir lagi kenapa tidak, jelas tahu dong, dia masih bertanya lagi, setelah kamu tahu itu membahayakanmu apa yang kamu lakukan?. Saya semakin tidak mengerti arah pembicaraannya, lalu saya balik bertanya memangnya kenapa? Apa lantai kamarmu rusak, atau mau renovasi kamar? dia malah tersenyum dan menjawab ya saya mau renovasi kamar, kamar hati saya, mendengar itu saya semakin bingung, apa sih maunya, kok semakin tidak jelas.

Ternyata dia menjelaskan bahwa pertanyaan diatas hanyalah ilustrasi belaka tentang pertobatan seseorang. Pertama-tama ketika dia baru saja bertobat mungkin sesekali dia jatuh kedalam dosa yang sama, akan tetapi jika bertahun-tahun kondisinya tetap dia jatuh dalam dosa yang sama, itu berarti bukanlah pertobatan. Sama seperti saya yang telah tinggal selama 7 tahun dalam kamar saya, akan tetapi saya tetap saja tidak tahu bahwa kamar saya itu berlubang bahkan tidak ada keinginan untuk menutup lubang itu, sehingga setiap kali saya harus jatuh dalam lubang yang sama di dalam kamar saya sendiri, bukankah itu adalah sesuatu kekonyolan? Karena seseorang yang bertobat adalah orang yang benar-benar menutup lobang dosanya yang artinya dia benar-benar meninggalkan dosa itu.

Sumber:
Hasil sharing bersama teman-teman diwaktu remaja
*Diah*

Tita ku sayang,



Nak, ketika ayah menulis ini, tepat 20 September 2004, ketika rakyat negeri sedang menentukan nasibnya sendiri, nasib bangsanya, nasib bangsa kita, nasib bangsamu Nak, untuk lima tahun ke depan. Semoga kelak, entah kapan...., dirimu akan mampu bangkit dan mandiri, tidak seperti bangsa kita, bangsamu jua. Yang terus terpuruk sejak lahirnya di tahun empat lima, terus terjajah oleh segelintir manusia tak tahu diri dan bangsa lain negeri pada negerinya sendiri.

Ayah tiba-tiba ingin memberikan kado ulang tahunmu buatmu, Nak. Kado ini yang hanya ayah mampu berikan, Kado yang mungkin baru engkau mampu ketahui kelak, entah beberapa lama lagi. Semoga.....engkau dapat segera membacanya.

Ayah membuat kado ini, ketika berada di dekatmu Nak, yang sedang terlelap ditemani bunda tercinta, yang juga terlelap di sisimu, di siang hari yang santai, ketika kalian sedang libur dari kegiatan sehari-hari. Kegiatan yang melelahkan kalian setiap harinya, dan sudah berlangsung hampir empat tahun lamanya. Ayah tahu engkau harus menerobos hujan dan panas, polusi serta debu jalanan bersama kekasih ayah tercinta, Ibundamu Nak. Itu menjadi santapan harianmu sejak dulu hingga kini, karena dirimu harus keluar masuk klinik tumbuh kembang, yang kadang berada jauh di pelosok dan pinggir Jakarta yang kering kerontang ini, mencari tempat yang sesuai dengan kebutuhanmu yang khusus itu. Ya....kata para ahli, dirimu mengidap sindroma autis disertai hiperaktif.

Penyakit yang sebab timbulnya pun masih menjadi perdebatan disana-sini, juga di negara-negara sana, yang katanya kondisi kesehatannya sudah sangat tinggi sekalipun. Apatah lagi di negaramu Nak, yang carut marut, ada bermacam-macam pengobatan mengemuka, disertai kabar kabur kemujarabannya, juga kadang tak jelas keberhasilannya, kadang hanya berorientasi materi semata. Berharap kepada pemerintah negeri sama dengan mimpi di siang bolong. Karena yang dipikirkan para petinggi negeri hanya bagaimana menjual seluruh aset negeri bagi kantong sendiri.

Namun sebagai muslim, agama kita mengajarkan, bahwa kita harus tetap berusaha, disertai doa kemudian. Tentunya engkau tahu, kita hanya hidup bertiga sekarang ini, saudara-saudara kita sudah sibuk dengan urusannya sendiri, sedang nenek dan kakekmu pun sudah terlalu renta untuk mampu mengawasimu. Juga tak bermoral rasanya, mereka yang pernah direpotkan oleh ayah dan bundamu dulu, harus kembali direpotkan oleh anak "special" sepertimu. Ditambah lagi karena ayah dan bundamu tak sanggup membayar orang yang dapat jadi pengasuhmu, karena untuk ongkos menuju tempat terapimu pun, kadang kala kami harus bersusah payah menghemat isi dompet, yang kadang sudah tak ada isinya lagi.

Setelah berjalan empat tahun kesana kemari, sudah banyak kemajuan yang engkau dapatkan, banyak orang tak mengetahui bahwa dirimu adalah anak "special", sampai kau diajak berbicara dan ditanya langsung oleh mereka. Itu satu-satunya problem yang masih engkau kau hadapi saat ini. Sikapmu sudah sangat manis, penurut dan periang juga tidak bergerak secepat dulu. Itu yang kusuka darimu. Kau sudah mampu menunjukkan emosi dan keinginanmu dengan lebih baik dan terkontrol, tidak pernah lagi kau mengamuk atau menangis berkepanjangan, apalagi di malam hari, seperti ketika umurmu dua tahunan dulu, yang membuat kedua orang tuamu malu kepada para tetangga.

Kini, Ibumu sedang hamil tujuh bulan, ia sedang mengandung bayi bakal adikmu. Ini membuatnya tidak selincah dulu dalam menemanimu, malah kadang-kadang ia tak sanggup mengejar larimu yang lincah bak seorang sprinter. Ia sekarang sering lelah, maafkan Ibumu Nak, bila ia tak sesehat kemarin dulu. Mungkin karena ia sedang mengandung adikmu. Tapi keikhlasannya dalam membimbing dan menemanimu setiap waktu, tak bakal lekang oleh waktu. Semoga Allah Swt senantiasa memuliakannya, karena ia telah rela mengorbankan karir dan masa depannya untuk membesarkan dan mendidikmu Nak, semata-mata hanya karena Allah.

Nak, Ia juga seorang ibu yang baik, yang mampu berdikari di dalam rumah tangganya yang penuh dengan banyak cobaan. Ia perempuan yang mandiri, yang kadang-kadang malah lebih laki-laki dari ayahmu sendiri, meski kadang-kadang ia semaunya sendiri dalam berkegiatan diri. Ibumu, perempuan yang penuh perhatian, meski kadang-kadang ayahmu sendiri yang kurang perhatian padamu serta pada dirinya. Dengan alasan klasik, capeklah, stresslah, banyak kerjaanlah dan macam-macam alasan lainnya. Padahal hari-harimu dan bunda, pasti terasa lebih berat dibanding hari-hari ayah, yang bekerja diruangan ber-AC.

Ayah merasa, belum mampu membahagiakan Ibundamu. Yang mampu ayah lakukan hanya marah dan marah. Maafkan ayah Bunda..... Sering, ia pun marah padamu, tapi bukan berarti ia benci padamu Nak, itu hanya lampiasan emosi sejenaknya yang mungkin sedang terhimpit beban berat, yang kadang ia sendiri tak tahu bagaimana mengatasinya.

Kadang ayah pun memarahimu Nak, namun itu karena ayahmu masih belum bisa menjaga emosinya, yang kadang meledak akibat contoh yang ditunjukan kakekmu dulu kepada ayah. Maafkan ayah Nak, mungkin dirimu tahu, atau juga bundamu lebih tahu, bahwa ayah telah coba kurangi kadar kemarahan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menulis, makanya sekarang ayah menulis, buat hadiah ulang tahunmu Nak, mudah-mudahan bermanfaat bagi ayah sendiri dan juga masa depanmu nanti.

Ayah membuat kado ini, ketika usiamu sudah enam tahun. Ketika kau baru saja masuk TK sekarang, meski baru TK Kecil. Memang sangat terlambat, tetapi tak mengapa, kami orang tuamu sudah cukup senang melihatmu mampu bergaul dan bermain bersama anak-anak yang normal, tak ada kata terlambat buatmu Nak. Bahkan ayah dengar dari bundamu, bahwa dirimu sudah bisa berteman, satu hal yang sangat sulit kau lakukan dulu. Kata ibumu lagi, dirimu sudah jadi anggota kelompok yang suka menjahili teman-temannya yang lain, sehingga sering dimarahi oleh guru. Tidak apa-apa Nak, ayah tahu kau hanyaikut-ikutan temanmu itu, kau akan terus belajar dari sekelilingmu.
Ayah sangat senang dan bangga Nak, kamu sudah bisa berinteraksi dengan sesama. Di saat teman-teman seusiamu sudah pintar mengaji, menyanyi, dan banyak kegiatan lainnya, atau mengikuti kontes-kontesan seperti AFI Junior dan Bintang Cilik, kau baru memulai dan merintis hari-hari depanmu........

Ayo...Nak, Ayah dan Bunda bantu dengan doa......

Apalagi bila melihat penderitaan anak-anak di Irak, Palestina, Checnya. Melihat semakin penderitaan di negeri ini, semakin banyaknya anak-anak jalanan, juga anak-anak yang tak mampu bersekolah. Serta dimana-mana bergelimpangan anak-anak yang fisik dan deritanya melebihi penderitaan yang ayah dan bunda rasakan. Hati kami, orang tuamu menjadi lebih lapang dan mampu kembali bermunajat dan mengucap syukur Alhamdulillah, bahwa penderitaan kami tidak seberat perjuangan mereka di luar sana.

Nak, siang ini ayah harus rela menguras air mata, ketika membuat kado ulang tahunmu, ayah terkulai lemah menahan luka yang telah ayah torehkan kepada kalian berdua, membuat ayah jadi teringat pesan Pencipta kita "Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya".

Ya Allah
Begitu banyak rahmatMu yang tak kusadari
Begitu banyak pemberianMu yang kuingkari
Begitu banyak nikmatMu yang tak kusyukuri
Pandanganku tertutup oleh cobaan yang Kau beri

Ya Allah
Maafkan aku......


Depok, 20 September 2004
Dwinu Panduprakarsa
- Seorang ayah dari anak "special"-

Kenapa Kamu Harus Hidup?


Aku mempunyai seorang teman, sebut saja namanya Roy. Yah.meskipun dia tidak terlalu tampan & bukan anak orang kaya.., tapi dia adalah seorang teman yang baik, ramah, dan suka menolong. Dia selalu mengutamakan temannya bahkan lebih daripada kepentingan dirinya sendiri. Dia adalah orang yang selalu tersenyum dan tertawa, meski di dalam hatinya aku tahu, ada kesedihan yang dalam, karena di keluarganya dia selalu jadi bahan makian orang tuanya, orang tuanya selalu mengatakan bahwa dia adalah anak yang bodoh, anak yang tidak berguna. Di rumah dia menjadi seorang pemberontak sedang di sekolah dia berubah menjadi orang yang sangat bahagia, selalu tertawa dan 'agak berlebihan' dalam mencari perhatian teman-temannya.

Aku mengerti dia melakukannya karena untuk menutupi kesedihannya sewaktu di rumah. Suatu saat, akhirnya dia memiliki seorang pacar, pacar yang cantik, baik, & pintar. Roy sangat mencintainya.. Meski demikian, dia tidak pernah melupakannya teman-temannya seperti kebanyakan orang yang lupa akan temannya pada saat dia menemukan cintanya Kami masih sering berbicara, dia menceritakan berbagai hal ttg pacarnya itu, Dia bercerita bahwa masa pacaran adalah saat yang paling indah yang pernah dia rasakan dalam hidupnya. Namun setelah 2 bulan berlalu, dia putus dengan pacarnya itu, karena pacarnya merasa banyak ketidakcocokan dengannya. Seringkali mereka bertengkar karena hal yang sepele,Roy lebih sering diatur-atur tentang ini itu oleh pacarnya. tetapi karena Roy merasa dirinya adalah seorang pria yang keras juga, Roy tidak mau diatur siapapun, dia seringkali membantah dan marah...Karena demikian pacarnya memutuskan hubungannya, karena pacarnya sudah tidak bisa lagi memahami Roy.

Roy pun menyesali atas kelakuannya pada pacarnya dan meminta pacarnya agar dapat kembali bersamanya. Tetapi keputusan pacarnya sudah bulat. . Roy pun menceritakan semuanya padaku di telepon, dia berkata, dia tidak bisa hidup lagi tanpa pacarnya yang bisa menolongnya, menghiburnya, yang selalu ada di sisinya. Dia mengatakan sudah tidak tahan lagi atas segala masalah yang terjadi, baik itu masalah dengan pacarnya ataupun masalah dengan keluarganya, dia berulang kali mengatakan ingin bunuh diri, dia mengatakan ingin minum racun tikus atau minum pembasmi serangga dan macam-macam. Aku lalu melarangnya dan berteriak "Jangan!! Jangan bicara seperti itu, kau tahu hidupmu sangat berharga," Lalu terdengar tawa kecil yang dipaksakan dan bernada dingin terdengar di ujung sana, "Yaaa.. Ya...kamu benar."

Lalu kami mematikan telepon, tapi setelah kami berjanji akan langsung tidur. Namun aku sama sekali tidak merasa mengantuk. Aku begitu khawatir dan merasa akulah satu-satunya harapan Roy. Ia sudah berulang kali mengatakan padaku bahwa sulit baginya membuka diri kepada siapapun selain kepadaku. Bagaimana mungkin ada orang yang tak ingin hidup? Aku bahkan bisa membuat daftar alasan mengapa aku bahagia bisa bangun setiap pagi. Dengan panik aku memutar otak mencari cara meyakinkan Roy tentang hal ini. Lalu seolah-olah bola lampu di kepalaku menyala. Aku mengambil selembar kertas notes dan memberinya judul, "Mengapa Roy harus Hidup", di bawahnya aku memulai mendaftarkan semua alasan yang terpikir olehku tentang mengapa seseorang harus tetap hidup.

Awalnya hanya dimulai dengan beberapa berubah menjadi duapuluh, lalu tigapuluh, lalu empat puluh tujuh. Hingga tengah malam, aku telah menuliskan tujuh puluh tujuh alasan mengapa Roy harus hidup. Sepuluh yang terakhir adalah sebagai berikut : 67) Di kuburan tidak ada tempat bermain video game.
68) Tuhan mencintaimu.
69) Tanah sedalam 2 meter sangat tidak nyaman dibanding kasurmu.
70) Di kuburan tidak ada restoran Steak yang enak.
71) Pelajaran Kalkulus akan sangat membosankan karena tidak ada kamu.
72) Kau belum memenuhi janjimu yaitu mentraktir Pizza.
73) Kau takkan suka bergaul dengan setan selamanya.
74) Katamu kau ingin mengajakku jalan-jalan ke Amerika.
75) Kau kan belum pernah mengendarai mobil BMW yang selalu kauidamkan.
76) Kau tidak bisa melihat lagi indahnya matahari saat terbenam di pantai.
77) Kau tidak pernah boleh menyesali siapa dirimu, kau hanya boleh menyesali apa
dirimu sekarang.

Yakin aku telah berusaha sebaik mungkin, aku naik ke ranjang untuk menunggu pelaksanaan tugas esok hari; menyelamatkan Roy.

Aku menunggunya di pintu ruang kelas, lalu aku serahkan daftar itu saat ia berjalan masuk. Aku memperhatikan dari sisi lain kelas saat ia membaca lembaran penuh bekas lipatan di pangkuannya. Aku menunggu, tapi ia tidak mengangkat mukanya selama satu jam pelajaran.

Setelah pelajaran selesai, aku mendekatinya, khawatir, tapi sebelum aku sempat berkata-kata, kedua lengannya sudah memelukku erat. Sesaat aku membalas pelukannya, airmata nyaris membutakanku. Ia melepaskanku dan dengan tatapan lembut ke mataku, ia berjalan keluar kelas. Ia tak perlu mengucapkan terimakasih, wajahnya sudah mengatakan semuanya.Seminggu kemudian, Roy pindah ke sekolahan lain
supaya bisa tinggal dengan neneknya. Selama berminggu-minggu aku tak mendengar apa-apa, sampai suatu malam, telepon berdering, aku mengangkatnya dan aku mendengar suara yang kukenal sebelumnya. Ia menceritakan bagaimana ia mendapat teman-teman baru disekolahnya dan ia mendapatkan nilai-nilainya jauh lebih baik, dan ia masuk tim sepakbola di sekolahnya.

Lalu dia berkata, "Tapi kau tahu apa yang paling hebat?" aku merasakan kebahagiaan sejati dalam suaranya.

"Aku tidak menyesali siapa diriku, juga apa diriku yang sekarang."Aku hanya bisa mengucapkan syukur, akhirnya dia mengerti..Mengerti siapa dirinya yang sebenarnya.. Untuk apa dia hidup..

Roy sangatlah beruntung, tidak semua orang seberuntung itu pada saat dirinya putus asa, ingin melukai diri sendiri, bahkan ingin bunuh diri karena tidak tahan akan cobaan hidup...Tetapi ingatlah, kamu tidak sendirian dalam hidup ini, masih ada teman-temanmu atau keluargamu yang memperhatikanmu, membutuhkanmu, mencintaimu, dan merasa sangat kehilangan jika kamu mati. Janganlah kau lupakan mereka... :)

Dari : Temanmu yang sangat mencintaimu :)

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Iri Tiada Henti



Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya. Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari. Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan. Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung. Ketika ia sedang bertengger, ia melihat ada orang yang memecahnya. Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu. Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini baik-baik saja kok... sampai Anda mulai membanding-bandingkan.

Kata Sang Guru: "Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar."Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan.Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan kita sepanjang hidup.

Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran dengan seimbang, tidak melekat terhadap delapan kondisi duniawi. Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana akan hidup tanpa kemelekatan terhadap delapan kondisi duniawi. Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apa pun. Be Happy!

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Belajar dari Sang Surya


Di sebuah kota tinggallah dua orang bijak yang sudah hidup bersama selama 30 tahun. Selama itu mereka belum pernah sekalipun bertengkar. Suatu hari seorang dari mereka berkata, ''Tidakkah kau berpikir bahwa inilah saatnya kita bertengkar, paling tidak sekali saja?''

Kawannya menyahut, ''Bagus kalau begitu! Mari kita mulai. Apa yang harus kita pertengkarkan?'' Orang bijak pertama menjawab, ''Bagaimana kalau sepotong roti ini?''

''Baiklah, marilah kita bertengkar karena roti ini. Tapi, bagaimana kita melakukannya?'' tanya orang bijak kedua. Orang bijak pertama lalu berkata, ''Roti ini punyaku. Ini milikku semua.'' Orang bijak kedua menjawab, ''Kalau begitu, ambil saja.''

Para pembaca yang budiman, alangkah damainya dunia ini kalau kita semua berperilaku seperti dua orang bijak tersebut. Coba Anda renungkan, bukankah pertengkaran, perselisihan, dan peperangan yang terjadi di dunia ini bersumber dari keinginan kita untuk meminta sesuatu dari orang lain? Kita suka meminta, tapi sayangnya kita tak suka memberi. Di rumah kita meminta perhatian pasangan kita, meminta anak-anak memahami kita, meminta pembantu melayani kita. Di tempat kerja, kita meminta bantuan bawahan, meminta pengertian rekan sejawat, dan meminta gaji yang tinggi pada atasan. Di masyarakat, mereka yang mengaku sebagai pemimpin selalu meminta pengertian dan kesabaran masyarakat, meminta masyarakat hidup sederhana dan mengencangkan ikat pinggang.

Bahasa kita sehari-hari adalah ''bahasa'' meminta. Mengapa kita suka meminta tetapi sulit memberi? Ada logika yang sepintas lalu masuk akal. Logika tersebut mengatakan, ''Dengan meminta milik Anda akan bertambah, sebaliknya dengan memberi milik Anda akan berkurang.'' Pikiran semacam ini menimbulkan ketamakan dan perasaan takut untuk berbagi.

Padahal hukum alam menyatakan yang sebaliknya. Justru dengan banyak memberi, kita akan banyak pula menerima. Coba perhatikan orang yang disenangi dalam pergaulan. Merekalah orang yang suka memberi. Sebaliknya orang-orang yang dibenci adalah orang yang pelit dan tak pernah memberi.

Keinginan untuk memberi tak ada kaitannya dengan banyaknya harta yang kita miliki. Ada orang yang kaya raya tapi sulit sekali memberi. Mereka selalu mengatakan, ''Kalau banyak memberi, kapan saya bisa kaya seperti ini?''

Mereka tak mau memberi karena takut miskin. Seolah-olah dengan memberi mereka akan terkuras habis. Mereka sesungguhnya orang yang benar-benar miskin. Karena bukankah ketakutan akan kemiskinan merupakan kemiskinan itu sendiri?

Sebaliknya ada orang yang sederhana tetapi senantiasa mau berbagi dengan orang lain. Mereka inilah orang-orang yang kaya. Yang menjadikan kita kaya sebenarnya bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa banyak yang kita berikan kepada orang lain.

Sumber kekayaan yang sejati sebenarnya terletak di dalam diri kita sendiri. Sayangnya, banyak orang tak sadar. Mereka sibuk mengumpulkan permata dan berlian, lupa bahwa permata yang ''asli'' sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri.

Namun, hal itu tak terjadi begitu saja. Ibarat menggali permata yang ada di dalam bumi, Anda juga harus melakukan penggalian ke dalam diri kita. Nah, begitu Anda melakukan perjalanan ke dalam, Anda akan mulai merasakan efeknya.

Mula-mula, beberapa masalah fisik yang berlarut-larut akan terhapuskan, kemudian masalah-masalah emosi yang pelik akan terselesaikan. Teruskan menggali, Anda akan merasakan hidup yang bermanfaat, dan akhirnya akan timbul suatu kesadaran bahwa kita semua adalah satu dan tak bisa dipisah-pisahkan.

Untuk bisa menggali, Anda perlu menemukan kuncinya. Tanpa kunci ini perjalanan Anda akan sia-sia belaka. Anda ingin tahu kuncinya? Jawabnya adalah: dengan memberi kepada orang lain! Jangan salah, memberi tak selalu harus berkaitan dengan materi dan uang. Kahlil Gibran mengatakan, ''Bila engkau memberi dari hartamu, tiada banyaklah pemberian itu. Bila engkau memberi dari dirimu itulah pemberian yang penuh arti.

'' Ada banyak sekali kesempatan bagi kita untuk memberi. Anda bisa memberikan perhatian, pengertian, waktu, energi, pemikiran, pujian, dan ucapan terima kasih. Anda bisa memberikan jalan bagi pengendara mobil lain di jalan raya. Anda juga bisa sekedar memberikan senyuman. Hal-hal yang sederhana ini dapat berarti banyak bagi orang lain.

Orang yang enggan memberi adalah mereka yang tak pernah belajar dari kehidupan itu sendiri. Padahal esensi kehidupan adalah memberi. Tuhan sebagai sumber kehidupan adalah Sang Maha Pemberi. Lihatlah, betapa Tuhan telah memberikan segalanya tanpa pilih kasih, tak peduli kita baik ataupun jahat. Inilah unconditional love, sebuah cinta tanpa syarat.

Seorang ibu juga adalah pemberi yang tulus, yang telah memberikan
seluruh hidupnya untuk anak-anak yang dicintainya. Sebuah lagu
menggambarkan hal ini dengan sangat indah, ''Kasih ibu kepada
beta/Tak terhingga sepanjang masa/Hanya memberi tak harap
kembali/Bagai sang surya menyinari dunia.''

Sumber: Belajar dari Sang Surya oleh Arvan Pradiansyah, Penulis Buku You Are A Leader! Dosen FISIP UI dan Pengamat Manajemen SDM

Belalang dan Anjing


Di suatu hutan, hiduplah seekor belalang muda yang cerdik. Belalang muda ini adalah belalang yang lompatannya paling tinggi diantara sesama belalang yang lainnya. Belalang muda ini sangat membanggakan kemampuan lompatannya ini. Sehari-harinya belalang tersebut melompat dari atas tanah ke dahan-dahan pohon yang tinggi, dan kemudian makan daun-daunan yang ada di atas pohon tersebut. Dari atas pohon tersebut belalang dapat melihat satu desa di kejauhan yang kelihatannya indah dan sejuk. Timbul satu keinginan di dalam hatinya untuk suatu saat dapat pergi kesana. Suatu hari, saat yang dinantikan itu tibalah. Teman setianya, seekor burung merpati, mengajaknya untuk terbang dan pergi ke desa tersebut. Dengan semangat yang meluap-luap, kedua binatang itu pergi bersama ke desa tersebut. Setelah mendarat mereka mulai berjalan-jalan melihat keindahan desa itu. Akhirnya mereka sampai di suatu taman yang indah berpagar tinggi, yang dijaga oleh seekor anjing besar.

Belalang itu bertanya kepada anjing,
"Siapakah kamu, dan apa yang kamu lakukan disini?"
"Aku adalah anjing penjaga taman ini. Aku dipilih oleh majikanku karena aku adalah anjing terbaik di desa ini" jawab anjing dengan sombongnya. Mendengar perkataan si anjing, panaslah hati belalang muda.Dia lalu berkata lagi "Hmm, tidak semua binatang bisa kau kalahkan. Aku menantangmu untuk membuktikan bahwa aku bisa mengalahkanmu. Aku menantangmu untuk bertanding melompat, siapakah yang paling tinggi diantara kita". "Baik", jawab si anjing. "Di depan sana ada pagar yang tinggi. Mari kita bertanding, siapakah yang bisa melompati pagar tersebut". Keduanya lalu berbarengan menuju ke pagar tersebut. Kesempatan pertama adalah si anjing. Setelah mengambil ancang-ancang, anjing itu lalu berlari dengan kencang, melompat, dan berhasil melompati pagar yang setinggi orang dewasa tersebut tersebut. Kesempatan berikutnya adalah si belalang muda. Dengan sekuat tenaga belalang tersebut melompat. Namun ternyata kekuatan lompatannya hanya mencapai tiga perempat tinggi pagar tersebut, dan kemudian belalang itu jatuh kembali ketempatnya semula. Dia lalu mencoba melompat lagi dan melompat lagi, namun ternyata gagal pula.

Si anjing lalu menghampiri belalang dan sambil tertawa berkata ,"Nah belalang, apa lagi yang mau kamu katakan sekarang ? Kamu sudah kalah".
"Belum", jawab si belalang. "Tantangan pertama tadi kamu yang menentukan. Beranikah kamu sekarang jika saya yang menentukan tantangan kedua ?"
“Apapun tantangan itu, aku siap" tukas si anjing. Belalang lalu berkata lagi, "Tantangan kedua ini sederhana saja. Kita berlomba melompat di tempat. Pemenangnya akan diukur bukan dari seberapa tinggi dia melompat, dari diukur dari lompatan yang dilakukan tersebut berapa kali tinggi tubuhnya".

Anjing kembali yang mencoba pertama kali. Dari hasil lompatannya, ternyata anjing berhasil melompat setinggi empat kali tinggi tubuhnya. Berikutnya adalah giliran si belalang. Lompatan belalang hanya setinggi setengah dari lompatan anjing, namun ketinggian lompatan tersebut ternyata setara dengan empat puluh kali tinggi tubuhnya. Dan belalang pun menjadi pemenang untuk lomba yang kedua ini. Kali ini anjing menghampiri belalang dengan rasa kagum.

"Hebat. Kamu menjadi pemenang untuk perlombaan kedua ini. Tapi pemenangnya belum ada. Kita masih harus mengadakan lomba ketiga", kata si anjing.

"Tidak perlu", jawab si belalang. "Karena pada dasarnya pemenang dari setiap perlombaan yang kita adakan adalah mereka yang menentukan standard perlombaannya. Pada saat lomba pertama kamu yang menentukan standard perlombaannya dan kamu yang menang. Demikian pula lomba kedua saya yang menentukan, saya pula yang menang.

INTINYA ADALAH, KAMU DAN SAYA MEMPUNYAI POTENSI DAN STANDARD YANG BERBEDA TENTANG KEMENANGAN. ADALAH TIDAK BIJAKSANA MEMBANDINGKAN POTENSI KITA DENGAN YANG LAIN. KEMENANGAN SEJATI ADALAH KETIKA DENGAN POTENSI YANG KAMU MILIKI, KAMU BISA MELAMPAUI STANDARD DIRIMU SENDIRI.


REFLECTION :

Rekan-rekan yang terkasih, seberapakah tinggikah anda `melompat' ?
Dalam kehidupan, seringkali tanpa sadar kita mencoba membandingkan kemajuan dan perkembangan diri kita dengan standard orang lain. Dan seringkali lebih banyak kekecewaan daripada kebahagiaan yang didapat. Mengapa ? Karena kita masing-masing dilahirkan dengan potensi yang berbeda, dengan bakat yang berbeda, dalam lingkungan yang berbeda, dan cara pandang yang berbeda tentang kehidupan. Cara yang tepat untuk mengukur seberapa jauh diri kita telah berkembang dan maju, adalah membandingkan diri kita saat ini dengan diri kita dimasa lalu. Apakah anda hari ini lebih kaya dibanding setahun yang lalu ? Apakah anda hari ini lebih bisa mengontrol emosi dibanding bulan lalu? Apakah anda hari ini lebih sehat dibanding kemarin ? Apakah anda hari ini lebih bijaksana dibanding setahun yang lalu ? Kemenangan sejati bukanlah kemenangan atas orang lain, namun kemenangan atas diri sendiri.

Buat diri anda hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin. Selamat Pagi dan selamat bekerja serta sukses untuk anda.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui

When You Divorce Me, Carry Me Out in Your Arms


Pada hari pernikahanku,aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti didepan flat kami yg cuma berkamar satu. Sahabat2ku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu2. Aku adalah seorang pengantin pria yg sangat bahagia.

Ini adalah kejadian 10 tahun yg lalu. Hari2 selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening: Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih diantara kami pun semakin surut.

Ia adalah pegawai sipil. setiap pagi kami berangkat kerja bersama2 dan sampai dirumah juga pada waktu yg bersamaan. Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yg tidak kusangka2.

Dew hadir dalam kehidupanku.

Waktu itu adalah hari yg cerah. Aku berdiri di balkon. dengan Dew yg sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya. ini adalah apartment yg kubelikan untuknya.

Dew berkata , "kamu adalah jenis pria terbaik yg menarik para gadis." Kata2nya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku. Ketika kami baru menikah,istriku pernah berkata, "Pria sepertimu,begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis." Berpikir tentang ini, Aku menjadi ragu2. Aku tahu kalo aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepaskan tangan Dew dan berkata, "kamu harus pergi membeli beberapa perabot, O.K.?.Aku ada sedikit urusan dikantor" Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.

Pada saat tersebut,ide perceraian menjadi semakin jelas dipikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun,aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun ku jelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya,ia adalah seorang istri yg baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai didepan TV. Makan malam segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama2. Atau,Aku akan menghidupkan komputer,membayangkan tubuh Dew. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari aku berbicara dalam guyon, "seandainya kita bercerai, apa yg akan kau lakukan?" Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yg sangat jauh dari ia. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius. Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dew baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengan ia..

Ia kelihatan sedikit kecurigaan. Ia berusaha tersenyum pada bawahan2ku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dew berkata padaku," He Ning, ceraikan ia, O.K.? Lalu kita akan hidup bersama." Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu2 lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, ku pegang tangannya,"Ada sesuatu yg harus kukatakan" Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka dimatanya. Tiba2 aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia tahu kalo aku terus berpikir. "aku ingin bercerai", ku ungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata2ku, tapi ia bertanya secara lembut,"kenapa?" "Aku serius. " Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku,"Kamu bukan laki2!" .

Pada malam itu, kami saling membisu. Ia sedang menangis.. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yg telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yg memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dew.

Dengan perasaan yg amat bersalah, Aku menuliskan surai perceraian dimana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian.. Aku merasakan sakit dalam hati. Wanita yg telah 10tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yg asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yg telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras didepanku,dimana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku, tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh2 telah terjadi ..

Pada larut malam,aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat2 dari perceraiannya: ia tidak menginginkan apapun dariku,tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya,dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya. Alasannya sangat sederhana: Anak kami akan segera menyelesaikkan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya," He Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita? Pertanyaan ini tiba2 mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku . Aku mengangguk dan mengiyakan. "Kamu membopongku dilenganmu", katanya, "jadi aku punya sebuah permintaan, yaitu kamu akan tetap membopongkuku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu ." Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yg telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis.

Aku memberitahukan Dew soal syarat2 perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. "Bagaimanapun trik yg ia lakukan,ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini," ia mencemooh. Kata2nya membuatku merasa tidak enak.

Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya dihari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami,"wah, papa membopong mama,mesra sekali" Kata2nya membuatku merasa sakit..Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut," mari kita mulai hari ini,jangan memberitahukan pada anak kita." Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang.Aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus, dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku,Kami begitu dekat sampai2 aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi.beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik padaku, "kebun diluar sedang dibongkar.hati2 kalau kamu lewat sana."

Hari keempat,ketika aku membangunkannya,aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku dilenganku.

Bayangan Dew menjadi samar.

Pada hari kelima dan enam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal,seperti,dimana ia telah menyimpan baju2ku yg telah ia setrika, aku harus hati2 saat memasak, dll. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dew tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya,"kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang"

Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yg cocok. Lalu ia melihat,"semua pakaianku kebesaran". Aku tersenyum.Tapi tiba2 aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi , aku merasakan perasaan sakit Tanpa sadar ku sentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat tersebut."Pa,sudah waktunya membopong mama keluar" Baginya,melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian yg penting . Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut aku akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyanggah ia dilenganku, berjalan dari kamar tidur,melewati ruang duduk ke teras Tangannya memegangku secara lembut dan alami. aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir,ketika aku membopongnya dilenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah kembali ke sekolah. ia berkata,"sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai kita tua" Aku memeluknya dengan kuat dan berkata "antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra".

Aku melompat turun dari mobil tanpa sempat menguncinya. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dew membuka pintu. Aku berkata padanya," Maaf Dew, Aku tidak ingin bercerai. Aku serius". Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku."Kamu tidak demam". Kutepiskan tanganya dari dahiku"maaf, Dew,Aku cuma bisa bilang maaf padamu,Aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosankan disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai2 dari kehidupan,bukan disebabkan kami tidak saling mencintai lagi.Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu" Dew tiba2 seperti tersadar.

Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dgn kencang dan tangisannya meledak. Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, ku pesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yg mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum, dan menulis " Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua.."

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)

Selasa, 09 September 2008

sms ku en dia.....

(part1)
ku dan dia....begitu dalam cerita ini untuk diceritakan....
ku kenal dia udah lama...tiap hari dia kupandangi. setiap hari ku kerja disini, duduk di bangku operator dia selalu kupandangi...gimana enggak. senyumnya itu loh.....

dia datang setiap hari, kuliah...trus singgah ke basecamp-ku.... ngeliat orang yang katanya 'temen'. tapi kok tiap hari ya...dah gitu pulang diantar lagi....wah wah wah...temen yang setia...
en jujur tuh 'temen' dia bikin ku jadi gimanaaaa gitu (kata orang sih cemburu)

ga terasa....ada sesuatu yang terjadi seiring waktu....
'temen'nya itu temenku juga sih....baru ja ketauan kalo dia tuh dah punya keluarga....duh....dia sedih....biarpun ku ga dapat ngejar dia ku juga ikutan sedih.....ga tau napa

entah gimana ceritanya...ku juga ga terlalu ingat....
ku putus asa ngejar dia..trus ku jatuhkan hatiku pd seorang gadis lain.....ga cantik sih....tapi lumayan baik.... dia ngerti banget posisi ku....kalo ku tuh suka si yang ptama (kasih nama ja imoet), nah yang kedua ni (kasih ja namanya uty) bilang jalani aja dulu, ntar mana yang ku suka n hati ku berat....ya terserah aku....yang penting harus dari hati katanya...

ga lama...biarpun aku ma si uty, tetep ja ku ingat ma si imoet.....
pengen aja duduk dekat dia....pandangi wajah dia.....

continued...part2